Kontainer Sampah Sebagai Inventori Terbaru Monas

Bentara.Asia – Menjelang berakhirnya perang dunia II. Partisan Italia menggantung sampah di kota Milan. Sampah tersebut adalah Mussolini dan Clara Petachi.

Kini di tahun 2010 , di kota Jakarta , suatu kebijakan revolusioner dibuat. Sampah di tumpuk dua kontainer di Monas .  Alih alih sebagai warning untuk menyadarkan warga di kawasan Sudirman, sampah ini bisa menjelma menjadi roh gentayangan karena tidak di kubur dengan layak.  Ini mengingatkan saya  kembali ke abad pertengahan . Para korban inkuisisi di gantung di jalanan kota , di pertontonkan kepada warga. Tapi itu abad pertengahan.

Akankah warga Jakarta mempedulikan ancaman senjata biologis tersebut atau malah tidak mengacuhkan sama sekali dan tetap memprioritaskan kesibukan mereka sehari-hari.


“Itu baru 20 kubik, kurang lebih 5 persen dari seluruh sampah Sudirman-Thamrin setiap harinya,” kata Fauzi Bowo – vivanews.com.

Kebijakan ini menandakan habisnya kreatifitas pemerintah daerah dalam menyelesaikan permasalahan sampah. Permasalahan yang sama juga pernah terjadi di Bandung , yang membuat kota itu sempat terjerembab dengan julukan “Parit Van Java” dan “Bandung Lautan Sampah”.

Bila selama ini pemerintah DKI membayar daerah lain untuk menampung sampahnya sampai ke-abadian menjemput bumi ini. Maka tindakan kali ini jelas menunjukkan ada usaha untuk merubah tindakan “export” sampah, atau minimal menguranginya. Entah karena pihak kota lain yang sudah tidak atau enggan menerima sampah, karena jelas properti lebih menguntungkan daripada bisnis landfill. Belum lagi dampak lingkungan seperti kerusakan udara sampai kerusakan tanah serta air dalam tanah.

Untuk sebuah kota yang katanya menuju Megapolitan, adalah sungguh konyol bila ‘sang ahli’ hanya memikirkan jargon tanpa benar-benar berpikir apa itu Megapolitan. Masih banyak masalah lain yang benar-benar membawa Jakarta ke ‘WhatAMessPolitan’. Mulai dari yang paling dasar, Jaringan listrik yang super kacau, saluran air minum dari perusahaan air minum yang rendah kualitasnya, saluran pipa gas yang belum ada sampai sudut-sudut Jakarta. Megapolitan tentu bukan Sudirman dan Thamrin saja, karena definisi Megapolitan adalah kumpulan kota bersebelahan seperti Bekasi , Tangerang , Bogor yang total penduduknya melebihi 10juta. Setelah itu baru lah kita menyebut fasilitas penunjang lain seperti jalan yang memadai, transportasi massal yang tidak menyebabkan masalah lain seperti kemacetan massal.

Bila sebuah kota yang masih sering ‘byar pet’ juga tidak tersedianya kelengkapan memadai untuk mendukung kehidupan 10juta manusia atau lebih seperti air bersih dan akses transportasi massal , turut berpartisipasi dalam  mengakibatkan kemacetan massal dan “bottle neck” masyarakat dalam berproduksi maka hasilnya adalah istilah yang saya ciptakan sendiri ini ‘WhatAMessPolitan’.

Tumpukan permasalahan Megapolitan adalah akumulasi dari masa sebelumnya. Memang tugas pemerintah baru tidak mudah , tetapi usaha meminimalisir adalah yang terbaik daripada mewariskan beban yang lebih berat ke generasi berikutnya. Apalagi pemerintah sekarang adalah pemerintahan “sang ahli” , semestinya banyak kemampuan super untuk menyelesaikan permasalahan. Daripada berorasi di atas “gunung es” dengan setumpuk permasalahan di bawahnya.

Pemikiran jangka pendek  mungkin hanya dipikirkan dalam semalaman , seraya mengharapkan keajaiban dalam semalam dan  hanya akan menghasilkan solusi jangka pendek atau malah lebih buruk menghasilkan kegagalan. Seperti solusi untuk kemacetan yang sudah sangat urgent dan tidak terbantahkan lagi dari sebuah Metropolitan ini yang dibangun dengan rencana jangka pendek demi rencana jangka pendek dan terjadi diskontinue disana sini. Maka tidaklah akan ada perubahan juga bila diganti 1000 pemimpin pun.

Masalah sampah sebagai sebuah masalah utama Megapolitan , dan bisa dibilang merupakan masalah kedua dalam prioritas penanggulangan setelah masalah transportasi. Manusia di belahan dunia manapun adalah mahluk paling produktif dalam menghasilkan sampah, baik itu faeses atau sampah dari perilaku konsumtif yang berbanding lurus dengan tingkat kemajuannya.  Itu sebuah kodrat dan mungkin sekaligus HAM yang tidak bisa dipungkiri atau dihilangkan, oleh negara sekalipun. Kebebasan untuk menghasilkan sampah adalah poin penting dari HAM yang terlupakan untuk dimasukan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Dikala 10 juta lebih penduduk menghasilkan sampah dalam sehari maka itu adalah masalah besar. Perlu “sang ahli” yang benar-benar ahli dan tim sukses yang merupakan sekumpulan pakar.

Tugas sebuah pemerintahan level kota adalah menfasilitasi cara untuk ‘menghilangkan’ sampah tersebut. Karena masyarakat kota adalah masyarakat paling aktif dalam memproduksi sampah , dan juga paling lahap dalam konsumsi produk , menghasilkan dampak kuadrat jika di kali dengan kepadatan dan jumlah populasinya. Setiap individu tidak mungkin ‘menghilangkan’ sampah sendiri atau membakar sampah setiap 5-10 meter di sekitar rumahnya sama seperti Irak membuang sampah di perairan Kuwait untuk menghalau sekutu.

Dan pada akhirnya, Solusi untuk pemerintah adalah membangun tempat daur ulang sampah. Bukan saja untuk mengubur biar tidak gentayangan bagai arwah penasaran . Tapi juga membangkitkan kembali sampah menjadi bisa di manfaatkan lagi.   Tempat Incenerator sampah juga harus dibangun, bahkan lebih baik kalau berfungsi sebagai pembangkit listrik juga. Sekali menyelam minum air ibaratnya , jadi sisi pragmatis juga harus di pikirkan sebuah pemerintahan kota , bukan sekedar jargon-jargon penenang yang membius warga.

Dan jelas sekali bahwa kebijkakan membiarkan sampah di depan Monas adalah kebijakan yang instant. Lagipula Monas adalah simbol nasional negara Ini. Membiarkan sampah di depan simbol nasional sama dengan mencoreng muka negara ini.

@gugun+ dada

Bentara.Asia | A Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s