Kesuksesan Jepang

Dunia takjub ketika Jepang untuk kesekian kalinya bangkit dari keterpurukan.Dari puing – puing pasca perang dunia II , mereka bangkit menjadi raksasa ekonomi dunia. Sebenarnya bagaimana perjalanan kesuksesan bangsa Jepang ini bermula.

Persatuan Bangsa

Dalam skala geografis , Jepang termasuk kecil di banding tetangganya yang raksasa yaitu Tiongkok. Dengan demikian persatuan bangsa adalah syarat utama. Pada masa dinasti Ming , mereka di kenal dengan “wako” nya alias bajak laut . Sehingga Ming sempat mengancam akan bertindak tegas terhadap Jepang (Jepang saat itu masih belum bersatu seutuhnya) . Peletak persatuan bangsa Jepang adalah trio Nobunaga , Hideyoshi , Tokugawa. Kelak Tokugawa akan mendirikan shogunate Tokugawa yang berusia 350 tahun lebih sebelum berakhir oleh Restorasi Meiji.

A nation is a society united by a delusion about its ancestry and a common fear of its neighbors. ~ W.R Inge

Budaya

Geertz mengambarkan budaya sebagai tentakel gurita , sebagian tentakel mempertahankan identitas , sebagian tentakel lain menyerap nutrisi positif dari kebudayaan lain.Inilah salah satu kunci kesuksesan Jepang. Mereka tidak tabu  mengadopsi kebudayaan lain yang lebih superior , misalkan Tiongkok. Dari Tiongkok mereka menyerap habis-habisan , dari filsafat , seni perang , religi sampai dewa-dewa juga di transfer. Lantas mereka mengembangkan , kalau perlu menyempurnakan sehingga menjadi ciri khas Jepang dan bagian dari identitas mereka. Misalkan permainan Go , dan seni bonsai itu sebenarnya berasal dari Tiongkok.

Setelah di buka paksa oleh barat dan terjadi Restorasi Meiji , tentakel Jepang semakin agresif , mereka menyerap ilmu pengetahuan Barat , mengadopsi kapitalisme barat , sehingga menghantarkan mereka sebagai salah satu bangsa yang di segani setara dengan negara – negara Barat . Hanya berselang sekitar 3 dekade dari Restorasi Meiji , Jepang berhasil mengalahkan Russia .

“Culture is the widening of the mind and of the spirit.” Jawaharlal Nehru

Seni Perang dan Aplikasinya

Seni perang (art of war ) tumbuh berkembang di Jepang . Akarnya berasal dari Tiongkok , lantas beberapa tokoh mengembangkan sendiri seni perang sendiri. Seni perang tidak sebatas dalam kepentingan perang , tapi penerapannya luas , misal seni perang individual , mengatur negara di masa damai , manajemen perusahaan.

Jepang telah menjadikan buku Sun Tzu , SamKok , dan buku – buku klasik mereka sebagai bacaan wajib sejak jaman dahulu kala. Miyamoto Musashi lantas menerapkan itu dalam seni perang individual dan menuliskan pengalamannya dalam berduel dalam buku Go Rin No Shu (Kitab Lima Unsur) . Yagyu Munenori juga menuangkan pengalamannya dalam kitab keluarga Yagyu . Itu terjadi di masa awal Tokugawa.

“Aspire to be like Mt. Fuji, with such a broad and solid foundation that the strongest earthquake cannot move you, and so tall that the greatest enterprises of common men seem insignificant from your lofty perspective. With your mind as high as Mt Fuji you can see all things clearly. And you can see all the forces that shape events; not just the things happening near to you.” Musashi Miyamoto

Homogenitas

Jepang adalah bangsa yang homogen , berbeda dengan Indonesia , Tiongkok , Amerika Serikat et cetera ,  yang heterogen dari berbagai etnis dan agama.

Hal ini merupakan plus dan minus sekaligus . Kelebihan dari penduduk yang cenderung homogen menghindarkan negri ini dari konflik horizontal , dan kultur yang cenderung homogen juga membuat program pembangunan bisa “di mengerti” dan di terapkan secara nasional.

Jika di bandingkan dengan Indonesia . Kecenderungan yang heterogen , membuat Indonesia .  memiliki kekayaan budaya yang bervariasi , tapi akan sulit menciptakan suatu iklim kerja dan program nasional yang dapat menjangkau seluruh negri dengan kultur yang berbeda.

Katastrofi dan Kontemplasi

Rakyat Jepang sadar betul bahwa negri mereka kerap di landa bencana dan miskin alamnya. Mereka juga  sadar betul wilayah negri mereka yang terlalu “sempit. Dan ancaman dari tetangga yang berukuran raksasa. Mereka mengkonversi setiap handicap sebagai motivasi , menaikkan daya survive mereka.

“Human history becomes more and more a race between education and catastrophe.” H.G Wells

Adaptasi

Kemampuan adaptasi bangsa Jepang terhadap perubahan dunia di sekitar mereka sungguh luar biasa. Pasca perang dunia II. Jepang yang hancur dan kalah , dinilai oleh USA dan sekutunya sebagai benteng terhadap komunisme. Jadi mau tidak mau , Jepang harus di beri bantuan , daripada di tuntut indemnities. Indemnities baru di bebankan secara bertahap terhadap negara- negara yang pernah di duduki seperti Indonesia , Burma , Filipina dll

Salah satu basis Kaizen yang menjadi dasar bagi manajemen organisasi di Jepang  sendiri bermula dari “utusan” USA untuk membantu dan membenahi Jepang ,  Juran dan Deming . Deming sendiri dihargai oleh pemerintah Jepang. Beberapa tokoh2 dibalik kemajuan pesat Jepang adalah , Deming , Juran , Kaoru Ishikawa dll

Anti Instant dan Efisiensi

Jepang tidak serba instant . Mereka memulai segala sesuatu secara realistis. Pada saat mereka jatuh miskin akibat kalah perang . Honda misalkan memulai dari produksi yang sangat realistis dan sangat di butuhkan masyarakat pada masa itu. Mereka membuat sepeda motor dengan mempertimbangkan kehematan bahan bakar dan kondisi masyarakat .

Fase peningkatan value produknya baru dilakukan secara bertahap kemudian . Mulai dari fase mencontek , memproduksi barang murah berkualitas rendah , mereka terus melakukan koreksi berkesinambungan sehingga tahap sanggup memproduksi sendiri dengan teknologi tinggi dan bernilai tinggi.

Sambil melakukan proses development product , pembenahan manajemen dan meningkatkan efisiensi , melakukan ekspansi product yang semula murahan ke seluruh dunia , melakukan kebijakan dumping , dan “agresi terencana” seperti sindikat raksasa , di mana saat melakukan ekspansi , pemain2 Jepang memilih “sarang” nya sendiri , tidak saling berebut . Kalau dalam bahasa gaul , sesama angkot jangan saling mendahului.

“Whenever you have an efficient government you have a dictatorship.” Harry S Truman quotes

Epilog

Jepang sekarang adalah raksasa ekonomi ke dua di dunia . Seperti magician , mereka mengambil bahan mentah dari negara berkembang , dan mengirim kembali dalam bentuk barang jadi. USA adidaya tunggal pun berhutang pada kembar siam Tiongkok dan Jepang . Sehingga arah dunia di masa depan , hegemoni dan pusat dunia akan kembali ke posisi tradisional .

2 thoughts on “Kesuksesan Jepang

  1. Pingback: Der Untergang « Writing And Being

  2. Pingback: Taiko – Eiji Yoshikawa (Hardcover) | My Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s