Tionghoa dan Hubungan Antar Etnis

(cuplikan posting saya di mailing list tionghoa net) http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/65752

Penggolongan Tionghoa

Cie Eva mengemukakan tentang penggolongan tionghoa. Tionghoa Merah Putih yang pro RI , Tionghoa yang berkiblat pada Tiongkok seiring dengan kemajuan RRT, Tionghoa yang pro barat yang lahir di Indonesia dan merasa nyaman tinggal di negara-negara Barat. Sikap Tionghoa juga ada yang antipati terhadap pribumi, ada yang toleran dan lain sebagainya. Lanjutnya lagi , pribumi pun bersikap sama, ada yang toleran, ada yang merah putih, ada yang pro terhadap mayoritas (muslim) sehingga timbul wacana hukum syariah atau negara Islam. Ini tidak sepenuhnya
kutipan bulat-bulat dari apa yang Cie Eva sampaikan , ada juga yang saya tambahkan. Menurut saya pribadi. Sikap anti itu tentu ada , tidak perlu kita tutup-tutupi dan tidak perlu dibesar-besarkan pula. Negara modern seperti USA
pun tidak luput dari kerusuhan rasial. Begitu juga isu rasial yang terjadi di Prancis. Secara natural , manusia cenderung berkelompok, mencari pasangan, berorgarnisasi berdasarkan kesamaan , baik agama , etnis, ideologi dan domisili.

Setelah berkelompokpun tetap saja ada perbedaan. Sifat eksklusif, antipati satu sama lain itu berjenjang. Dalam Tionghoa sendiri terbagi – bagi kedalam beberapa perbedaan pandangan seperti yang Cie Eva sampaikan. Belum lagi ada Tionghoa Bangka , Tionghoa Medan , Tionghoa Pontianak , dan Tionghoa Jawa (Bandung – Surabaya). Menurut asalnya Tionghoa pun terbagi-bagi lagi, ada yang hokkian , tio ciu , hakka dan lain sebagainya. Masing-masing sub memandang dirinya lebih tinggi dan saling memberi stigma satu sama lain. Stigma bahwa Tionghoa Medan (“cimed”) itu ulet , pekerja keras , tp sekaligus binatang ekonomi , tukang tipu. Stigma bahwa Tionghoa Jawa itu ibarat “pseudo fankui” karena dianggap sudah tidak menghargai kebudayaan tionghoa (leluhur) dan juga tidak bisa berdialek.
Jadi kesimpulan lainnya , dalam tubuh Tionghoa pun ada perpecahan. Dan di hierarki yang lebih atas, antara suku2 di Indonesia juga ada sekat-sekat. Friksi-friksi yang terjadi ini akan menghambat roda pembangunan negara ini yang
sarat dengan permasalahan. Ibaratnya, bagaimana seorang anak remaja bisa belajar kalau seisi rumah sibuk bertikai satu sama lain. Begitu kental semangat kedaerahan , sehingga kepala daerah haruslah putra daerah. Ini adalah pertanda bahwa prasangka antar etnis belum lagi tertuntaskan.

Saya masih merasa kecil untuk menawarkan solusi. Tapi segala sesuatu itu harus di mulai di mulai dari rumah sendiri. Di ibukota yang besar ini , di tengah gelapnya malam , setiap bangunan berhiaskan nyala lampu, yang jika di perhatikan dari bukit bagaikan jutaan kunang-kunang. Setiap nyala cahaya ada kisahnya masing-masing. Entah ada pemimpin agama yang sedang berdakwah tentang kemuliaan Tuhan sambil mengajarkan kebencian dengan dalih agamanya sendiri yang paling benar, entah kepala keluarga yang mewariskan kebencian dari moyangnya atau
saudara sendiri sedang mengindoktrinasi kebencian terhadap yang lain di satu rumah , atau di rumah lain kita tidak pernah tahu. Yang jelas kebencian itu menular , dan jelas – jelas bisa di tanamkan , di jejalkan ke dalam otak-otak
yang masih belia. Burung garudapun jika diasuh oleh induk ayam akan menjadi ayam untuk selamanya.

Jika dunia sepakbola telah sukses mendeskripsikan gambaran masyarakat yang tidak bisa menerima kekalahan, demikian juga gambaran pertukaran opini juga sering berakhir dengan kericuhan dan tergambar sudah sikap masyarakat yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat. Kita tidak perlu menuduh tionghoa-tionghoa yang
bangga dengan kebudayaan leluhurnya sebagai suatu sikap tidak nasionalis , dan juga tidak perlu menuduh tionghoa-tionghoa merah putih sebagai penjilat pemerintah. Seharusnya di jembatani karena kedua kubu seperti ini masih memiliki dasar alasan. Saya rasa masyarakat Jawa-Suriname juga turut bangga atas keberhasilan Indonesia, karena secara moral akan memotivasi mereka bahwa dalam darah mereka ada potensi yang sudah terbuktikan. Yang harus di permasalahkan adalah segelintir tionghoa yang anti – Indonesia dan anti kebudayaan leluhurnya. Inilah sejenis tionghoa yang durhaka , yang gemar mengutuki Indonesia dengan dalih peduli sesama tionghoa. Yang membuang jauh-jauh budaya yang menjadi identitasnya.

*****

Perimbangan Opini.

Tionghoa-tionghoa durhaka ini gemar mempublikasikan tulisan yang sarat dengan kebencian terhadap Indonesia. Karena muslim adalah mayoritas , maka muslim pun tak luput dari sasaran. Ini sangat pengecut dan berbahaya sekali , mereka menyerang umat mayoritas sambil mengatasnamakan tionghoa. Yang harus kita pikirkan adalah , anti tionghoa memang betul-betul ada , tetapi jika betul sikap anti itu adalah suara mayoritas , maka tionghoa sudah terhapus dari nusantara jauh-jauh hari. Disini logika bisa menjadi alat bantu. Tionghoa-tionghoa durhaka ini umumnya telah menetap di negara-negara Barat , dan sangat mengagungkan kebudayaan barat. Dengan semangat delusif bahwa setelah menjadi warga barat , maka mereka adalah sang “empu”nya dunia, padahal di sana pun kedudukan mereka adalah kaum yang terpinggirkan, terkucil , sehingga menghabiskan waktunya untuk menulis gak keruan di dunia maya. Tionghoa-tionghoa durhaka ini terkena syndrome superman , walaupun super tapi terpencil dan menyendiri dalam solitude of fortressnya , benteng kesunyiannya. Salah satu menghadapinya adalah bukan
menghadapi mereka dengan debat kusir , tetapi saya harap masing-masing memiliki waktu menulis untuk memberi perimbangan opini.

NB: Menulis untuk memberi perimbangan opini ini pernah di kemukakan Steeve dan
koh YHG.

*****

Multiagregasi

Di negara Indonesia yang sangat majemuk ini. Tidak ada benar-benar ada satu wadah yang sanggup menaungi satu individu. Tidak seperti Sinhala yang beragama X , dan Tamil yang beragama Y. Ada empat perbedaan dan tetap saja keluar dua kelompok karena satu etnis menganut agama yang sama.Di Indonesia , seorang yang bernama Mey2 adalah seorang tionghoa tulen, seorang katolik yang patuh, seorang akuntan , seorang wanita, berasal dari bandung punya
hobby fotografi.(fiktif). Jika imlek dia akan bertemu si acong yang beragama Buddha.Jika di gereja dia akan bertemu dengan Sitorus yang beragama Katolik , Jika di kantor dia akan bertemu bossnya yang bernama Joko , Dalam klub fotografi dia berteman dengan si Atang yang sunda-muslim. Saat dia mendengar seorang wanita bernama Cut X di perkosa, sebagai sesama wanita dia ikut geram. Dalam aktivitas yang begitu padat, dimanakah Mey2 dapat mengarahkan kebencian? Acong yang satu etnis tp beda agama? Sitorus yang beda etnis tapi satu agama? Atau bossnya sekaligus kolega yang berbeda etnis tapi satu profesi dan satu bidang? Atau Cut X yang beda agama dan beda etnis tapi sama2 wanita?

Mey-mey , karena begitu banyak aktivitas , maka wawasannya pun luas , bergaul dengan orang dari latar belakang yang berbeda. Tidak ada tempat untuk mengarahkan kebencian, bahkan stigma2 tentang umat agama lain , etnis agama lain tidak terbuktikan. Maka dia semakin toleran dan menghargai perbedaan. Jikapun ada tempat untuk menyalurkan kebencian , maka dia akan melukai dirinya sendiri. Dalam jejaring multi agregasi ini setiap tindakan kebencian akan melukainya sendiri.

Contoh kasus fundamentalisme yang menghajar Bali dengan Bom. Dengan dalih membela tuhan maka dia melukai orang lain , karena bom itu tidak bisa memilih sasaran , bom itu pasti melukai saudara seiman yang kebetulan ada di tempat , melukai saudara seetnis yang kebetulan ada di tempat.

Rasisme hanya tempat bagi orang-orang yang kurang aktivitas , kurang pergaulan , hidup terkucil seperti yang saya katakan di atas , bahwa orang2 seperti ini adalah orang yg terkena syndrome superman , merasa super tapi menyendiri dalam solitude of fortress.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s