Manusia dan Bencana : Satu Dekade Kerusuhan Mei

I

Bencana menuai demonstrasi manusia yang tidak lagi bernyawa , terbujur kaku , bergelimpangan disana sini dan menuntut untuk diperhatikan , daripada hanya kematian-kematian individual seorang gembel di jalanan. Yah kematian kolektif memiliki prime time yang penuh dengan slot iklan dan rating yang tinggi, memiliki prestise yang tinggi.Seperti piala Eropa sebentar lagi yang akan menyihir rakyat Indonesia sebulan penuh sehingga tak bakalan sudi bagi kita untuk melirik sepakbola gajah di negri sendiri.

Begitu pula yang terjadi dengan tayangan kematian dari sebuah bencana.Angka statistik yang serba wah memaksa siapapun untuk segera memberi pertolongan semeriah mungkin agar tidak dituduh tidak bermoral . Mari lupakan dulu gembel jalanan yang terancam mati kelaparan . Mari kita lupakan orang – orang sakit disekitar yang merelakan tubuhnya menjadi hotel bintang lima mahluk2 bersel satu, atau yang merelakan perutnya menjadi laboratorium bulog. Tidak ada benefitnya menolong sesuatu yang tidak bakal terliput, tidak ada wartawan yang akan datang , tidak ada kamera yang akan mengabadikan.

Nyatanya fenomena menolong semut di seberang lautan bukanlah monopoli negara berkembang. Sepertinya kapal induk USA lebih cepat datang ke Aceh daripada garda nasional saat menghadapi bencana di New Orleans.

II.

Bulan ini adalah bertemakan kerusuhan Mei yang sudah 10 tahun yang lampau. Bahkan salah satu puisi dibawah ini mengukur 10 tahun yang lalu dengan deret ukur ratusan tahun. Berusaha mencari sebab – akibat yang digambarkan tidak tiba – tiba saja meledak dan meletakkan unsur api sebagai unsur utama. Sebagian orang memandang api tersebut sebagai mercusuar , bukannya untuk dirayakan melainkan untuk dikenang , bukannya untuk didekati tapi untuk dihindari. Sastrawan Russia , Aleksandr Solzhenytsin mengalami sengatan api disekujur tubuhnya , dan dia tetap hidup walaupun terbakar. Hati-hatinya bertanya , aku adalah pahlawan tanah airku di garis depan , dan negara mengirimkanku ke tiang bakaran. Api tersebut pada awalnya menghanguskan , tetapi seiring berjalan waktu. Aleksandr merubah api yang membakarnya menjadi pelita , instrumen bagi pencerahannya. Sampailah beliau di pemahaman bahwa apapun yang terjadi itu adalah harga yang pantas diterima . Aleksandr menggambarkan alat sederhana , sebuah sisir yang jika digunakan secara halus akan membuatnya beliau menemukan bahwa api siksaan itu pantas diterimanya, api siksaan itu membuatnya bertambah kuat.

Kerusuhan Mei menebar api yang jahat. Bukannya tanpa sebab , dan pastilah ada yang menggerakkan. Api yang tersasar memang melahap siapa saja , tetapi ironisnya sasaran utama menjadi tersamar , dan hal ini malah mengangkat derajat tragedy yang mengancam suatu etnis menjadi tragedi nasional. Seringkali terlupa bahwa api yang menghanguskan Hiroshima juga melahap rakyat yang tidak berdosa , walau sasarannya jelas adalah menjatuhkan moral tentara Jepang. Begitu juga hujan artileri pasukan merah Sovyet yang menghujani Berlin. Segera anak2 naga menjelma menjadi cacing-cacing yang menggeliat atau ular yang lari ketakutan begitu mengindrai asap dan riuh rendah orang2 yang kerasukan. Ironisnya , beberapa tahun kemudian api menjelma menjadi ledakan . Segelintir orang bermimpi menjadi martir , meraih wildcard tiket surgawi dengan menghukum orang asing dan juga menghukum dirinya sendiri. Sama seperti api di bulan Mei yang segera menghalau orang-orang asing yang ketakutan untuk segera hengkang dari pulau dewata. Sama seperti kerusuhan Mei , ledakan di pulau dewata ini menghajar siapa saja bukan saja hanya orang asing , tapi rekan sebangsa dan senegara juga menjadi korbannya. Hal serupa juga terjadi , bahwa ledakan tersebut naik derajatnya menjadi tragedy internasional dan bukan lah serangan terhadap etnis (bule) dan agama karena ,hmm toh rekan senegara pun menjadi korban.

Terlepas bahwa itu adalah tragedy nasional ataupun tragedy etnis. Kita harus berpegang prinsip bahwa segala sebab ada akibat. Korban yang mengalami akibat terikat pada mata rantai sebab yang kasat mata yang digambarkan Aleksandr sebagai sisir halus, bahwa segala sesuatu yang diterima memang pantas di alami. Bukan berarti saya mengatakan bahwa korban kerusuhan itu pantas mengalami semua itu. Ada rahasia alam yang tidak kita mengerti. Tetapi yang pasti pelaku kerusuhan pun kelak akan terikat dengan mata rantai sebab – akibat ini harus membayar apa yang di lakukan, mungkin dengan bunga yang tinggi yang tidak akan mampu dibayar dan diwariskan pada keturunannya kelak. Aktor intelektualnya mungkin berpeluang menerima academy award di akhirat sana.

Sementara puisi-puisi bencana menggunakan kata untuk mendeskripsikan sebuah bencana dan tragedy , tetapi jarang yang saya temui seperti karya sastra Aleksandr yang menggunakan kekuatan dari kata-kata untuk menggali makna yang ada dibalik bencana. Puisi-puisi yang ada cenderung mencari sebab yang sebenarnya sedang mencari jejak dari mahluk yang bernama kambing hitam. Padahal makna sebuah bencana adalah seharusnya mengkonversi energi panas yang berlebihan dari api dendam yang membakar ini menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Kita sering melihat bahwa bencana justru melahirkan simpati bantuan dari kejauhan yang sedang berada di tempat aman , bahkan seperti terjadi perlombaan bantuan kemanusiaan seperti yang saya gambarkan di bagian awal, tetapi jangan terlupakan bahwa di lokasi bencana , orang dibimbing oleh suara perutnya untuk menjarah milik orang lain untuk bertahan hidup.

Tema bencana yang mendominasi posting-posting di bulan ini seperti Badai di Myanmar , Kerusuhan di Tibet , Gempa di RRT, Kerusuhan Mei, seharusnya di konversikan sebagai energy yang positif , bukan sebagai bahan bakar yang terbaharukan, yang menjadikan api dendam sama abadinya dengan olimpiade. Seharusnya api itu menjelma menjadi mercusuar , menerangi pikiran busuk pelaku kerusuhan untuk bertobat , dan menjadi pelita bagi kita untuk menghindari sejarah yang sama terulang kembali

Et Pax In Terra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s