Resensi Film : Joyeux Noel

200px-merry_christmas_film.jpg

Dari insiden di Sarajevo, Bosnia maka meletuslah Perang Dunia I. Bagaikan reaksi berantai , Autria – Hongaria menantang Serbia , Russia membela Serbia dan menantang Austria – Hongaria , Jerman lalu mengancam Russia dan Prancis , Inggris lalu mengancam Jerman dan seterusnya. Perang Dunia I ini adalah peperangan paling defensive (jika dibandingkan dengan “sekuelnya” , Perang Dunia II) . Peperangan di garis depan juga berlangsung statis, hanya permainan tembak menembak dari parit perlindungan di garis depan. Begitu seterusnya, sehingga korban jiwa justru lebih banyak di akibatkan tembakan artillery. Maka ada yang dinamakan masa “stale-mate” (seri) dalam tahun-tahun tertentu akibat perang yang bersifat defensive dan statis ini.

Di garis depan front barat , dekat perbatasan Prancis – Jerman. Satu peleton Jerman yang dipimpin letnan yang berdarah Yahudi berhadapan dengan satu peleton Skotlandia(Inggris) yang dipimpin Letnan Gordon dan Prancis yang dipimpin seorang letnan yang beristri Jerman. Sementara hari natal semakin dekat, medan perang di liputi salju dan suasana perang masih berlangsung walau masing-masing pihak hanya menunggu di parit masing-masing. Suatu keajaiban datang saat hari natal tiba, dimulai dengan tiupan musik skotlandia di kubu pasukan skotlandia.

Tak lama kemudian seorang prajurit Jerman yang berprofesi sebagai penyanyi opera datang ke markasnya bersama kekasihnya yang juga penyanyi opera. Nyanyian lagu natal kemudian berkumandang dari markas Jerman. Pasukan Skotlandia yang tersentuh dengan suara itu mengiringi dengan alat musik mereka. Suasana perang segera mencair dalam semangat Natal. Mereka kemudian keluar dari parit perlindungan mereka, dimulai dengan pemimpin mereka dan diikuti oleh prajuritnya. Terjadilah peristiwa unik dalam sejarah militer, tiga pasukan yang bermusuhan berpesta natal bersama, mengadakan misa natal bersama hingga bermain sepakbola bersama. Bahkan Letnan Jerman ini sampai memberitahu rencana serangan artillery Jerman terhadap “musuh” mereka dan mempersilahkan pasukan Skotlandia dan Prancis untuk berlindung di parit perlindungannya. Letnan dari Skotlandia membalas budi dengan menjadi tuan rumah bagi musuhnya saat hujan artillery Skotlandia membalas beberapa saat kemudian. Momentum Natal yang singkat membuat musuh bagaikan sahabat dengan cara yang ajaib. Secara militer ini tentu sebuah “penghianatan” terhadap negara. Bahkan pasukan Jerman sampai berani terang-terangan menyenandungkan lagu Skotlandia di depan atasan mereka. Bagaimana nasib pasukan garis depan ini saat atasan mereka masing2 mengetahui peristiwa2 aneh yang terjadi di garis depan? Akankah mereka diadili secara militer?

“Joyeux Noel” dinominasikan sebagai calon peraih best foreign language film di Golden Globe dan Academy Award. Dan kisah ini ternyata diangkat dari kisah nyata, dididedikasikan untuk para prajurit Jerman, Inggris dan Prancis yang bertempur di garis depan masa Perang Dunia I. Rasanya ini film Prancis, film bertema perang sekaligus film Natal terbaik yang pernah saya saksikan. Mata saya entah berapa kali berkaca-kaca menyaksikan beberapa adegan yang mengharukan itu. Film ini menghadirkan kontingensi yang tidak pernah terpikirkan dalam medan peperangan. Temanya hampir mirip dengan “Welcome to Dong Mak Gol” (K-Movie) , yang berbeda kalau WtDMG itu fiktif maka Joyeux Noel sebaliknya, kalau di WtDMG itu musuhnya adalah saudara sebangsa yang berbeda ideology, maka Joyeux Noel itu musuh lintas bangsa.

2 thoughts on “Resensi Film : Joyeux Noel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s