Resensi Film : Welcome to Dong Mak Gol 웰컴 투 동막골

weldongmakgol.jpg

Pasca Perang Dunia II, dunia seperti kue yang diperebutkan antara negara pemenang perang. Militer Jepang yang masih bertahan di semenanjung Korea harus menyerahkan diri kepada negara pemenang. Garis demarkasi 38 derajat dibuat untuk menandai wilayah administrative penyerahan Jepang. Daerah selatan berada dalam pengawasan Amerika Serikat dan daerah utara berada dalam pengawasan Uni Sovyet. Dari sinilah bibit perbedaan ideology antar rakyat Korea semakin tajam. Atas “restu” Stalin , 28 Juni 1950 Korea Utara menyerbu Korea Selatan dan dengan secepat kilat pasukan Korea Utara menerobos wilayah selatan dan menghancurkan hampir seluruh kekuatan Korea Selatan. Keadaan berubah saat beberapa bulan kemudian pahlawan PD II , Douglas MacArthur memimpin operasi ampibi berbahaya di Inchon, dan operasi ini merupakan titik balik yang menghantam balik kekuatan Korea Utara. Ratusan ribu tentara Korea Utara terjebak dan ditangkap karena operasi ini ( Kelak, peristiwa inilah yang memaksa China untuk menyerbu semenanjung Korea dan berpihak pada Korea Utara. Pendaratan MacArthur itulah yang menjadi prolog dari film ini.


More...

Sementara kedua pihak saling berperang, jauh diatas gunung ada sebuah desa yang seperti surga. Desa Dong Mak Gol ini benar-benar terpencil dari peradaban. Mata pencaharian penduduknya bercocok tanam karena mereka sama sekali tidak memakan daging dan mereka hidup dalam kedamaian, tanpa kekerasan. Pakaian yang mereka kenakan pun seperti model pakaian beberapa abad yang lampau. Penghuni desa ini tidak mengenal apa yang dinamakan granat, senapan dan segala produk kemajuan teknologi lainnya. , dan keramahan itulah kharakter mereka. Semua itu berjalan baik-baik saja hingga Kapten Smith dari pihak sekutu mengalami kecelakaan di pesawat tempurnya dan jatuh di desa itu. Disusul Letnan Dua Pyo dari pihak Korea Selatan yang desersi dari unitnya yang ditemani kepala medis. Suasana desa semakin meriah dengan kedatangan perwira Lee dari Korea Utara bersama kedua anak buahnya yang terpisah dari unitnya, kelaparan dan sedang mencari desa untuk mencari makan. Pada mulanya, penduduk desa terjebak ditengah permusuhan ideology dari kedua pihak, yang berakhir deadlock dengan gertakan semata senapan dan granat yang ditodongkan satu sama lain, hingga penduduk pun menjadi bosan(karena mereka memang tidak mengenal apa itu granat) bahkan balik menjadikan aksi konyol para prajurit. Dagelan inipun berakhir saat sebuah granat nyasar membakar persediaan untuk setahun makanan desa itu. Para prajurit tidak punya pilihan lain selain harus bertanggung jawab untuk mengisi kembali lumbung makanan desa itu.

Interaksi antara penduduk asli yang lugu, prajurit Korea Utara dan Selatan yang bermusuhan, dan seorang kapten penerbang amerika menjadikan film ini lucu, menghibur, mengharukan dan menunjukkan indahnya perdamaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s