Resensi Film : The Butterfly Effect

butterfly_effect.jpg

Film dengan kedalaman ide yang luar biasa. Film ini dibuka dengan kutipan “Chaos Theory”, contoh paling populer dari konsep ini adalah kibasan sayap kupu-kupu di Hawaii yang menjadi sebab utama badai di Karibia. Para praktisinya telah berhasil menangkap kupu-kupu tetapi mereka belum menangani semua aliran angin yang didorong oleh sayap kupu-kupu itu. Apakah ini cukup relevan dengan kelakar Archimedes, disaat dia menemukan pengungkit? “Beri saya tempat untuk berpijak, maka saya bisa menggerakan bumi.” Atau seinchi hidung Cleopatra dinilai turut menentukan sejarah dunia. Leibniz pernah berkata kepada Jacoub Bernoulli: “Alam telah menentukan pola menciptakan kejadian, tetapi hanya untuk sebagian besarnya saja.”

Sekedar intermezzo, Bernoulli dan Einstein adalah ilmuwan yang sangat memperdulikan perilaku didunia alamiah, namun manusia harus menghadapi perilaku sesuatu diluar pola alam, yaitu manusia itu sendiri. Mahasiswa pengikut teori “Kekacauan” (Chaos) menolak keseimbangan pada kurva lonceng sebagai deskripsi tentang realitas. Dunia ini terhadap penyimpangan terhadap norma yang tidak tersebar secara simetris di kedua sisi rata-rata, seperti yang diproyeksikan dalam distribusi normal Gauss. Dan sebelum review ini semakin condong pada jurnal ilmiah akan saya hentikan.

Dalam halaman belakang cover DVD film ini, didapat kesan bahwa film ini memiliki tema supernatural thriller. Padahal menurut saya, fenomena yang tergambar dalam film itu merupakan hal yang dialami oleh orang pada umumnya. Kurang lebih seperti ini, dalam setiap perjalanan hidupnya seseorang akan membentur “tembok” ataupun jalan buntu. Daripada memilih untuk menghadapi masalah maka dia akan memilih untuk melarikan diri ke masa lampau, menuju titik persimpangan dimana dia berawal. Bila belum juga mengalami kepuasan dan kejelasan yang memadai, dia akan terus melarikan diri ke titik persimpangan sebelumnya dan seterusnya. Labirin kehidupan.

Contoh, seorang istri yang selalu dianiaya oleh suaminya. Dia akan kembali ke pada titik awal, tempat dimana dia bertemu pertama kalinya dengan suaminya, bangku kuliah, bangku sekolah atau di kantor? Dan sang istri itu akan fokus di area mana dia bertemu dengan suaminya, meneliti, menelusuri, napak tilas, dan dengan “kaca pembesar” ataupun “sisir yang halus” dicermatilah foto-foto dan surat-surat masa lalu, diary. Alih-alih mengumpulkan bukti-bukti yang meringankan dirinya, dia malah memperberat penderitaan yang telah ada dengan penderitaan yang baru, yaitu rasa penyesalan. Dia akan menggenerasi kontingensi demi kontingensi, umpamanya, “Seharusnya saya tidak menikah dengan bajingan ini”, “Seharusnya saya menuruti nasehat teman-teman saya”, “Seharusnya saya mencurigai gossip-gossip yang telah beredar sejak lama.” Blah, blah, blah

Lalu apa hubungannya dengan kibasan kupu-kupu dan badai Karibia? Memang sulit kalau topik berat seperti teori kekacauan ini dijabarkan dalam durasi 2 jam film. Toh ada pembatasan permasalahan dalam film ini, tidak dijumpai ada badai Karibia bukan? Slogan “change one thing change everything” tak lebih dari usaha untuk membatasi permasalahan dengan menyusun nasib empat sekawan secara permutasi, bukan nasib dunia ini. Kata “Everything” disini hanya sebuah sample. Badai, yah memang badai, sebenarnya penerapan teori kekacauan disini adalah setiap penyesalan, kebencian dan dendam disini juga akan menciptakan badai emosi yang dahsyat dikemudian hari. Bom Bunuh Diri misalkan. Akan tetapi, secara keseluruhan ide film ini begitu mendalam, walau popularitas film ini tidak begitu gegap gempita seperti Trilogi Matrix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s