Siddhartha – Hermann Hesse
Penulis : Hermann Hesse
Judul Asli : Siddharta
Negara : Jerman – Swiss
Genre : Alegori Buddha
ISBN :
Buku ini menceritakan proses menuju pencerahan dari seorang pemuda yang bernama Siddhartha. Siddhartha di ceritakan sejaman dengan Buddha Gautama. Perjalanan Siddhartha pada awalnya serupa dengan Gautama. Terlahir dari keluarga brahmana, lantas meninggalkan segala kebesaran duniawi dan mengakrabi kemiskinan dan penderitaan untuk mencapai pencerahan. Lantas , Siddhartha bertemu dengan Buddha Gautama. Gautama sendiri memperingatkan Siddhartha bahwa kecerdasannya sangatlah luarbiasa sekaligus berbahaya. Siddhartha—seperti halnya Socrates—dengan lantang menyerukan bahwa kebenaran sejati itu tidak bisa diajarkan, bahkan ajaran Buddha sekalipun. Kesadaran akan kebenaran sejati itu harus di cari dan bergantung pada usaha masing – masing.
Pertemuan antara Siddhartha dan Gautama menjadi titik bifurkasi bagi Siddhartha. Untuk selanjutnya Siddhartha mengambil jalan yang jauh berbeda dari Gautama dalam mencari pencerahan, dengan jalan yang berliku dan tidak terduga. Mulai dari mengakrabi seorang pelacur bernama Kamala, dunia kenikmatan tiada batas. Lantas terjerumus ke dunia perjudian, hingga akhirnya bertemu dengan seorang pengayuh sampan yang akan merubah seluruh pola pikir Siddhartha. Akankah Siddhartha dapat mengejar kertinggalannya dari Gautama. Sungguh menarik dan mendebarkan untuk disimak.
Kualitas tulisan allegorical Hermann Hesse sangat luar biasa indah, mengalirkan bagaikan aliran air sungai yang mengantar pembaca terhanyut dari derasnya kata – kata menuju kesunyian lautan yang luas.
Komunis Anti Agama?
Dengan segala hormat saya mengatakan , orang Tiongkok cenderung seperti pasir di lautan , begitu banyak akan tetapi sulit bersatu , terlihat dari maraknya perang saudara di sepanjang era dari dinasti hingga republik. Chiang Kai Sek bahkan meniadakan ancaman Jepang , dan lebih mengutamakan konfrontasi dengan Mao Ze Dong. “Jepang adalah penyakit kulit sedangkan Komunis adalah penyakit jantung”. Jadi dengan konflik internal seperti itu , Jepang lebih mudah menguasai sebagian wilayah Tiongkok. Chiang Kai Sek sampai harus di culik jendralnya baru mau bersedia bergabung dengan Mao melawan Jepang. Jepang pun tidak bisa dikatakan kalah dari Tiongkok ,sedangkan Sovyet hanya menjumpai mitos divisi elite Jepang di Manchuria ternyata cuman mitos. Jepang bukan dikalahkan baik oleh Sovyet ataupun Tiongkok , tetapi oleh USA. Dan lantas? Pasca Perang Dunia II , Tiongkok kembali dilanda perang saudara jilid II antara Nasionalis versus Komunis. Kemenangan Komunis pun bukan anugrah dari langit , karena kita tahu Mao Ze Dong terlibat persaingan dengan Komunis Soviet , Stalin juga masih terikat dengan aliansi Sekutu (Nasionalis Tiongkok) , Sementara Barat jelas-jelas ada dibelakang Chiang . Jadi PKT benar-benar terkucil.
Lantas darimana datangnya kemenangan komunis tersebut? Yah dari kebobrokan kubu Nasionalisme + Feodalisme yang masih ada. Kemenangan senantiasa datang dari kelengahan diri sendiri. Rakyat kecil teraniaya oleh kaum feodal , dan Negara dalam keadaan kacau , kesenjangan sosial, moral aparat pemerintah dan militer yang bobrok , inflasi ekonomi dan seterusnya. Dan rejim Chiang Kai Sek setelah kekalahannya , mendirikan pemerintahan diktator pula di Taiwan. Dan baru-baru ini terdengar kabar keterlibatan Chiang Kai Sek dalam tragedy kekerasan di negri itu di masa lalu.
Dan saya setuju bahwa Tiongkok sudah mengalami kerugian sepanjang ratusan tahun. Bukan saja dari berkobarnya perang saudara yang berkepanjangan , yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu disini , akan tetapi juga diaspora dan terlebih korban perang menghilangkan juga sumber daya manusia Tiongkok yang kini menetap di negara-negara lain dan
telah menjadi warga negara di negara yang bersangkutan, kerusakan situs budaya , korban jiwa yang tidak sedikit. Setelah sedemikian kerugian material yang sangat besar.
Setelah komunis memenangkan perang saudara dan mendirikan RRT. Tiongkok menghadapi masalah baru. Sudah pasti pembangunan membutuhkan kestabilan dalam negri.Sementara kestabilan dalam negri mendapat tantangan dari kebijakan pengurungan Tiongkok oleh USA dan Barat dari segala penjuru , Semenanjung Korea , Jepang , Taiwan. Konfrontasi Mao dengan Kruschev (pasca Stalin) , Konflik perbatasan dengan India, Suasana perang dingin , perlombaan senjata dan seterusnya. Disini kita membicarakan Tiongkok sebagai Mahluk Raksasa yang sedang terjepit , antara hak untuk bertahan hidup entah dengan caranya sendiri yang tentu di mata orang luar tidak lumrah akan tetapi tidak terhindarkan bagi negri itu.
Revolusi Kebudayaan adalah dampak dari persaingan internal . Disini yang menjadi korban bukan saja , umat beragama , situs kebudayaan , akan tetapi juga anggota partai komunis itu sendiri. Jadi tidak semata-mata penyebabnya adalah ideology komunis itu sendiri. Tentu akan menjadi panjang lebar membicarakan segala kelebihan dan kekurangan Mao. Yang pasti kondisi awal bayi RRT itu membutuhkan kestabilan dan tidak menyediakan ruang bagi konflik-konflik baru , seperti yang dikatakan Maria , yang bisa menyebabkan perpecahan baru dan Tiongkok selamanya akan menjadi negara miskin.
Bicara Jepang tentu akan berkaitan satu sama lain sama seperti bantuan Amerika terhadap negara-negara Eropa Barat. Amerika sudah menduga bahwa setelah usai Perang dunia II , Sovyet akan menjadi musuh berikutnya. (Stalindengan manuvernya telah mencaplok Eropa Timur) ….Untuk membendung komunis, tidak bisa tidak USA memberi kebijakan yang berbeda kepada Jepang. Sementara di medan lainnya , semenanjung Korea , terlibat pertarungan sengit antara Korut dukungan RRT – dan Korsel dengan dan PBB(USA). Yah seperti ibarat permainan catur , masing2 kekuatan dunia bersiap memantapkan posisi untuk menghadapi konflik baru(cold war)……Milestone pencapaian Jepang adalah : Oda Clan – Toyotomi Clan – Tokugawa Shogunate – Restorasi Meiji hingga WW II dan pencapaiannya sekarang.
Yangmembedakan dengan Tiongkok , Jepang sudah dipersatukan oleh Oda , Toyotomi , Tokugawa , praktis tidak mengalami perang saudara berarti , kecuali letupan2 kecil agama , hingga restorasi Meiji. Sementara disaat yang bersamaan Tiongkok sudah mengalami berbagai perang saudara di masa Qing hingga Republik………maka benarlah jika dikatakan kerugian Tiongkok
sepanjang beberapa abad terakhir adalah tidak terhingga , sementara itu harus menghidupi rakyatnya yang jumlahnya terbesar didunia……..
Sementara Deng , sendiri adalah pesaing utama Mao pada masa itu akan tetapi Deng dibiarkan hidup (nasibnya berbeda dengan presiden Liu) , Karena Mao punya perhitungan sendiri bahwa Tiongkok akan membutuhkan Deng di masa mendatang. Dan komunis , memang hanya kulitnya saja , tetapi dibiarkan sebagai perekat keutuhan bangsa , sementara system ekonominya sudah lebih mirip “kapitalis” …..
Lagipula Jika Tiongkok langsung loncat ke tahapan demokrasi dimana kondisi negara tidak memungkinkan hanya akan menambah permasalahan baru danperpecahan baru. Mao membakar ladang hingga tuntas , dan Deng yang menanaminya kembali. Saya yakin pada masanya nanti Tiongkok akan merubah kebijakannya menjadi lebih moderat.
Sementara itu , Barat ……..seperti biasanya bermuka dua , Aktivitas pemberitaan berbanding lurus dengan laju investasinya , secara kiasan saya gambarkan sebagai kolaborasi arus masuk kapital dan leviathan media , CNN – Wall Mart , BBC – Reuter – Manchester United… (maaf hanya kiasan saja)
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan Mao , Deng dan pemimpin komunis lainnya , dampak kekerasan (yang juga terjadi di pihak Barat sendiri) , pencapaian Tiongkok sekarang ini patut dicermati dengan objektif , yang buruk dibuang , yang baik diambil sebagai pembelajaran bagi bangsa lain yang sedang berkembang…….
Kontroversi Revolusi Kebudayaan 无产阶级文化大革命
Banyak pihak memandang sejarah Revolusi Kebudayaan dan Partai Komunis Tiongkok adalah seperti di bawah ini .
I. Mengandalkan Kekerasan dan Teror untuk Merebut dan Mempertahankan Kekuatan
II. Menggunakan Kebohongan untuk Membenarkan Kekerasan
III. Sikap dan Prinsip yang Selalu Berubah
IV. Memusnahkan Sifat Manusiawi dan Mengganti dengan Prinsip Partai
V. Makhluk Jahat yang Menentang Alam dan Menentang Sifat Manusia
VI. Ciri Khas dari Makhluk Kejahatan
VII. Mawas Diri Singkirkan Makhluk Merasuk PKT.
VIII. Segala sesuatu dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) adalah demi kepentingan politiknya untuk dapat meraih, melindungi dan memperkokoh kekuasaan zalimnya. PKT telah menggantikan watak manusia dengan watak partai yang jahat, menggantikan kebudayaan tradisional dengan kebudayaan partai yang “palsu-jahat-agresif”.
IX. Klik disini
Kesalahan yang terus saja berulang dalam menyikapi sejarah adalah menekankan pada dampak kekerasannya, atau sentimen agama , atau sentiment etnis , yang menimbulkan banyak bias seperti yang tercantum di atas. Kecaman datang dari pihak http://www.erabaru.or.id/k_01_art_85.htm , yang di ketahui bersikap oposisi terhadap PKT. Jadi yang di cari – cari adalah kesalahan PKT hingga ke remah – remah seukuran atom. Apakah itu dapat dibenarkan? Tiongkok di bawah PKT memang tidaklah seindah taman surgawi , akan tetapi juga tidak seburuk seperti yang di gambarkan pada butir – butir diatas. Inti dari kecaman – kecaman tersebut adalah HAM , Kehidupan Beragama dan Kebudayaan.
Issue HAM
PKT dituduh banyak melakukan pelanggaran HAM. Akan tetapi kita semua tahu bahwa pelanggaran HAM juga di lakukan oleh negara – negara maju , baik pada saat berdirinya dengan cara menindas dan memusnahkan kaum aborigin , Indian , dan pribumi lainnya , ataupun melalui perbudakan dan penindasan pada jaman kolonial dan imperialism. Saya ragu apa populasi kaum aborigin di Australia dapat mengimbangi populasi Kangguru misalkan. Jika pemimpin sebuah negara kecil , seperti Noriega dari Panama bisa di “dijemput” kapan saja oleh Amerika Serikat , apalagi rakyat – rakyat sipil yang menjadi target.
Issue Agama
Revolusi Kebudayaan dinilai merusak rumah – rumah ibadah dan mengekang kehidupan umat beragama. Pihak anti-PKT menggunakan issue ini untuk meraih dukungan kaum umat beragama dari seluruh dunia. Juga di sodorkan kasus serupa di Uni Sovyet dalam masa pemerintahan Stalin yang terkenal dengan Gulag.
Bahwa Revolusi Kebudayaan memakan korban jiwa itu benar adanya , akan tetapi yang menjadi korban bukan melulu umat beragama , akan tetapi juga pejabat – pejabat partai , dosen , guru , dan rakyat biasa yang terkena fitnah dalam gejolak politik yang terjadi di Tiongkok yang penuh dengan motif – motif pribadi
Di tahun pertama , 1966, sepertinya pertikaian antar fraksi pengawal2 merah itu belum terjadi, baru pada tahun berikutnya. Yang ada didalam kelompok merah itu sendiri ada sedikit pertikaian , status “berdarah merah” sangat menentukan disini , jadi ada tiga stigma pada saat itu didalam internal kelompok pengawal merah yaitu merah , abu2 dan hitam (anak dari orang tua yang dicurigai antek kapitalisme atau orang kanan), yang hitam biasanya diplonco. Tapi tidak jarang juga pengawal merah itu dimanfaatkan oleh orang berhati bengkok untuk memfitnah atau membalas dendam pribadi. Baru ditahun2 berikutnya, muncul persaingan antar faksi yang menjurus pada civil war kecil2an, yang sepertinya malah dinikmati oleh nyonya Mao sebagai drama lanjutan komunis lawan nasionalis (kubu yang mana? Dia gak bilang) …malah memberi petunjuk pada militer untuk mensupply senjata kepada pengawal merah (lagi2 nyonya Mao tidak jelas memberi petunjuk pihak mana yang harus diberi)…..
Korban Jiwa
Menilai perjuangan bukan dari sekedar jatuhnya korban jiwa, Revolusi Kebudayaan memang brutal , tapi menilai perjuangan itu ibarat melihat seluruh hutan , tidak bisa dinilai dari pohon per pohon. Sebaiknya juga dilihat juga dampaknya bagi China di masa depan seperti yang kita lihat sekarang ini. Perbandingannya di dua abad sebelumnya , Revolusi Prancis yang tersohor itu juga sama2 berbau amis khan? Yang kekerasan ekstremnya baru berakhir setelah “bahan bakar” nya habis seperti yang dikatakan Thomas Carlyle. Kekacauan kelas dengan “Third Class”nya dan juga munculnya “Sang Terror” pasca Revolusi Prancis. Revolusi manapun memiliki kelemahan dan kelebihan , jadi sekali lagi , lihat pengaruhnya terhadap Negara itu di masa sesudahnya.
Tapi ada cerita sebelumnya dari Revolusi Kebudayaan itu , Great Leap Forward yang hiperbola, dan juga kegagalan kebijakan Mao dalam produksi “baja” yang dikerjakan kaum petani, jadi siapa yang bercocok tanam? Karena itu timbul krisis pangan dan kematian massal. Marsekal Peng Dehuai yang berani mengkritik Mao , lantas disingkirkan. Mao berkata bahwa bencana itu akibat 30% system error dan 70% human error , tapi Liu mengkoreksinya dengan 70% system error dan 30% human error. Mao mulai merasa ancaman dari Deng dan Liu dan juga mulai tidak mempercayai kesetiaan partai. Lalu dibelahan dunia lain , timbul pemberontakan kaum intelektual di Hongaria yang untuk sesaat berhasil menumbangkan rejim komunis dukungan Moskow. Terlepas dari ketidaksukaan Mao terhadap Soviet-Nikita Khrushchev, Mao mulai tidak nyaman dengan kaum intelektual dan juga seniman. Kasus Wu Han adalah salah satunya. Dan peristiwa2 itu adalah pendahuluan dari RK(RBKP?).
Mao Ze Dong
Mao memang melakukan beberapa kesalahan, tetapi saya juga setuju bahwa jasa Mao juga cukup besar bagi bangsa China. Kurang lebih Mao seperti juga kaisar Chin Se Huang dua ribu tahun sebelumnya , membuat wilayah kedaulatan China tetap utuh (tidak seperti Eropa) . Masalah kebrutalan adalah ekses dari perjuangan bersenjata yang merupakan konsekuensi dari perjuangan politik di tingkat elite seperti yang dikatakan Mao. Mao seolah berkata , biarkan saja kehancuran terjadi , kelak pembangunan terjadi dengan sendirinya.
Deng itu memang luar biasa. Mao walau menganggapnya rival, tapi sengaja membiarkan Deng tetap “hidup” dan Deng tidak harus bernasib tragis seperti Liu. Menurut Mao, bagaimanapun juga China di masa mendatang , memerlukan administrator yang andal seperti Deng sebagai suksesor . Dalam tempo 30 tahun sejak berakhirnya Revolusi Kebudayaan, China telah menjadi kandidat serius Negara adidaya. Dan “taikonot” China telah mensejajarkan diri dengan astronot dan kosmonot Negara lainnya. Dan kini sedang bersiap menyelenggarakan Olimpiade 2008.
Kesimpulan Akhir
Tidak ada system ideology yang sempurna , yang ada adalah system terbaik yang sesuai dengan negara yang bersangkutan. Kapitalisme Barat bisa cocok di negara – negara maju , tapi belum tentu cocok untuk negara berkembang. Tiongkok yang sepanjang sejarahnya mengalami pemborosan sumber daya manusia dan alam akibat berlangsungnya perang saudara secara terus menerus. Berapa besar kerugian Tiongkok akibat perang saudara berkesinambungan ini. Oleh karena itu Tiongkok memerlukan sebuah pemerintahan yang kuat dan tegas seperti yang telah di tunjukkan PKT dalam memimpin Tiongkok. Demokrasi yang di serukan negara-negara Barat terhadap Tiongkok , hanya akan membuat Tiongkok kembali terjerumus kedalam perang saudara. Yang di perlukan adalah perubahan secara bertahap, bukan dengan cara mengadopsi segala sesuatu yang sukses di tempat lain dengan cara instant.
Jadi , baik buruknya Revolusi Kebudayaan-tetap memiliki peran penting bagi perjalanan bangsa Tiongkok ke masa depan. Seperti yang di katakan Mao “, biarkan saja kehancuran terjadi , kelak pembangunan terjadi dengan sendirinya”. Revolusi Kebudayaan seperti usaha membakar ladang dengan tuntas , dan Deng sebagai suksesor Mao , tinggal menanami ladang yang telah terbakar dan mengantar Tiongkok menuju lompatan raksasa seperti yang pernah direnungkan olen Napoleon.
Pihak – pihak yang hanya pandai mencari – cari kesalahan PKT dan Tiongkok dan menutup mata atas keberhasilan Tiongkok adalah pihak yang senang memperkeruh suasana .
Toshie to Matsu 利家とまつ
Sebuah drama kolosal yang melibatkan sejumlah artis papan atas Jepang seperti Karasawa Toshiaki , Matsushima Nanako, Takenouchi Yutaka, Sorimachi Takashi, Sakai Noriko dan artis – artis pendukung lainnya.
Jepang dilanda perang saudara berkepanjangan di akhir masa Ashikaga Shogunate (足利幕府) 1336—1573. Toshiee berasal dari klan Maeda , memutuskan untuk mengabdi kepada Nobunaga Oda , sang penguasa muda provinsi Owari yang tampak kecil dan rapuh. Toshiee juga menikah muda dengan Matsu yang saat itu masih di bawah umur.
Nobunaga dari provinsi Owari yang kecil lantas mulai menancapkan pengaruhnya yang kuat ke seluruh Jepang dengan didukung oleh sekutunya, yaitu Tokugawa Ieyasu. Meningkatnya kekuasaan Nobunaga ke seluruh Jepang , membawa dampak pada meningkatnya pamor klan Maeda dan klan Toyotomi, sebagai salah satu pendukung utama klan Oda
Gulag – Aleksandr I. Solzhenitsyn

Gulag adalah akronim dari Glavnoye Upravleniye Lagere, Pusat Administrasi Kamp Kerja. Solzhenitsyn boleh dibilang orang pertama yang memperkenalkan dan memakai istilah ini dalam kitabnya yang kini menjadi klasik, Kepulauan Gulag (Archipelag Gulag, tiga jilid, 1973-1978)
Sanya, nama kecil Solzhenitsyn, berharap menjadi sastrawan sedari muda , tapi perjalanan hidupnya beralih kebidang science matematika. Ditengah kecamuk perang dunia II , Sanya terpanggil untuk membela negaranya berkaitan dengan serbuan Jerman di musim panas 1941 (operasi barbarosa) , dan menjadi komandan di garis depan. Kebencian terhadap Stalin mulai tumbuh yang dinilah sebagai penyebab luluh lantaknya negri itu menghadapi serbuan Jerman. Dalam sebuah surat korespodensi yang ternyata di sensor oleh agen-agen Kremlin, menghantarkan Sanya ke pengadilan yang memvonisnya bersalah dengan tuduhan penghianatan dan penghinaan terhadap pemimpin tertinggi Stalin.
Jika Jerman dibawah kekuasaan Hitler melakukan kekejaman kamp kerja paksa yang tertelanjangi di depan dunia akibat kekalahannya, maka kekejaman serupa yang ada di Uni Sovyet di bawah kekuasaan Stalin tetap tertutup rapat. Sanya seperti “beruntung ” dapat memasuki neraka yang tersembunyi dalam sebuah negara , seperti sebuah kepulauan , yang dapat menelan siapa saja, kapan saja , dimana saja tanpa pandang bulu , baik anak kecil yang hanya mencuri segenggam gandum , biarawati yang terhormat , mantan militer dan pejuang bangsa , gadis – gadis belia . Sebuah neraka dengan system penangkapan , interogasi , penyiksaaan yang sistematis , dari derajat yang paling halus hingga yang paling kasar. Iyah , Sanya beruntung , dia yang mendapat kesempatan berharga melukiskan semua pemandangan neraka dunia yang mengerikan tersebut , kedalam sebuah karya sastra yang mengantarkan Sanya meraih nobel sastra tahun 1970 .
Sanya yang memang sempat menjadi sastrawan , menjadikan neraka Gulag ini sebagai sebuah kanvas , tempatnya menaruh kata – kata satiris , sekaligus renungan – renungan dan pencerahan , sebuah pencapaian spriritual yang dapat memahami makna suatu penderitaan , betapapun bengisnya , sebagai berkat yang tersembunyi ….
Dari sudut pandang moral , Kekuasaan dapat di manfaatkan untuk mencapai tingkatan kemakmuran dan kekejian yang tiada batas. Akan tetapi ditengah kegelapan yang pekat , akan selalu ada api – api spiritual yang tetap menyala , yang mencoba untuk bertahan , seraya menularkan kehangatan terhadap sesama.
Bahwa apapun yang buruk menimpa kita semua , jika di telusuri dan di renungkan terus ke masa lampau , dengan sisir yang halus , maka kita akan menemukan bahwa apa yang kita alami itu memang sudah sepantasnya kita terima.
Gulag adalah sebuah karya yang bagus , tempat kita untuk merenungkan apa itu makna2 kehidupan dibalik penderitaan , kisah kisah satir , sejarah Sovyet selama puluhan tahun .
Mountain Patrol – Kekexili
![]()
Berdasarkan kisah nyata dari sukarerawan Tibet yang mempersenjatai diri , dengan biaya sendiri dan seadanya mereka bertempur dengan sekelompok pemburu illegal antelope Tibet yang mulai terancam punah. Kiprah para sukarelawan ini tercatat oleh seorang jurnalis dari Beijing yang mengikuti keseharian mereka dan bergabung dalam rombongan mereka sebagai jurnalis. Dapat disaksikan juga sikap kaum wanita setempat terhadap perjuangan kaum lelaki mereka , melepas kepergian mereka kedalam perjuangan membela lingkungan…….Berlatarbelakang pegunungan Tibet yang indah berhiaskan salju , temuan-temuan bangkai2 antelope sepanjang perjalanan sungguh mengenaskan. Ditambah wajah ramah dan ganas dari pegunungan Tibet yang muncul silih berganti membawa kesukaran tersendiri bagi perjuangan mereka. Dan bagaimana akhir perjuangan mereka?
Karakter2 dalam film ini diperankan sebagian besar oleh artis Tibet sendiri, karena itu film ini menawarkan keunikan , yang berbeda dari film-film Mandarin yang biasa kita lihat. Saya begitu takjub bagaimana di tengah kemiskinan, keterbatasan dana dan dukungan dari pemerintah, semangat mereka bisa menggelora, yang rela untuk mempertaruhkan nyawa bukan untuk kemerdekaan mereka , bukan untuk kebebasan mereka , melainkan untuk mempertahankan apa yang mereka warisi secara turun temurun , termasuk kekayaan alam berupa satwa2 khas Tibet ,
Imre Kertesz – Fateless
Penulis : Imre Kertesz
Judul Asli : Sorstalanság
Negara : Hungaria
Genre : Otobiografi Novel
ISBN : 979-3062-49-5
Novel ini menceritakan kisah perjuangan seorang remaja Yahudi bernama George Koves, yang berusia belasan tahun di era Perang Dunia II dan terpaksa harus memasuki kamp kerja paksa, dan berpindah dari satu kamp ke kamp lainnya , dari Buchenwald, Auschwitz, Zeitz. Menarik untuk disimak tentang bagaimana dalam sudut pandang remaja dalam menyikapi pembantaian massal, pelecehan terhadap HAM, proses genocide terhadap bangsanya. Dalam usia belia George Koves memaknai penderitaan dan kekejaman dalam dunia kamp sebagai dunia “yang normal” bahkan lucu. Kamp yang seharusnya menjijikan, berbau anyir, kelam karena hawa kematian digambarkan sebagaimana adanya orang normal yang sedang tinggal dalam rumahnya sendiri yang nyaman.
Penulis novel ini, Imre mendapat hadiah nobel di tahun 2002. Dalam pengalaman nyatanya, dia juga mengalami masa-masa di kamp konsentrasi Buchenwald atau Auschwitz. Dengan kata lain novel ini merupakan cerminan dari pengalaman pribadinya.
Novel ini hampir setara dengan film La Vita e Bella (Life is Beautiful) tentang bagaimana seseorang melihat penderitaan dirinya, penderitaan orang lain , dan rentetan kekejaman yang tidak terlukiskan sebagai dunia yang normal yang harus disikapi dengan gembira.
Hakikat Pernikahan
Pernikahan membuat orang lain menjadi saudara sendiri dan membuat saudara sendiri menjadi orang lain.
Sang Chauvinist
Sungguh kasihan nasib seorang chauvinist.
Disatu sisi dia meninggikan rasnya , tanpa sadar dia secara tidak langsung merendahkan rasnya.
Dia tidak memahami prinsip dari dua pedang , dan dia juga tidak memahami prinsip dari standar deviasi.
Seakan dia menggiring rasnya ke langit ke tujuh, seakan dia sudah berbuat sesuatu bagi rasnya , seakan litani dan kidung pujian pada sang bunda sudah cukup menyelesaikan segalanya.
Sama seperti nasib primata agung yang bernama manusia. Begitu agung saat mencapai pencerahan spiritual yang memberi batas tegas antara naluri binatang dan manusia , dan begitu rendah saat manusia berlaku lebih rendah daripada binatang. Tak jarang manusia membunuh anaknya sendiri , atau bapaknya sendiri. Sesuatu hal yang tidak dilakukan bahkan oleh binatang liar seperti dubuk bahkan harimau.
Tatkala seorang chauvinist menyanyikan lagu pujian , litany akan kebesaran rasnya. Harus ada kambing yang harus disembelih untuk merayakannya , dan untuk membuktikannya, katakanlah orang seperti Hitler mendirikan altar , dan menyiapkan korban bakaran dimana-mana, manusia2 yang konon inferior, yang pantas untuk dijagal, yang pantas untuk diteliti dan dijadikan eksperimen . Dan sejak itu hingga kesudahannya , setiap hari adalah hari raya, festival kematian , sekaligus ibadah…layaknya ritual satanic……..
Begitulah ketololan seorang chauvinist. Tatkala menunjuk rasnya , bangsanya adalah yang terhebat , dia harus setuju kalau rasnya mampu melahirkan pemimpin2 hebat , pahlawan2 hebat , ilmuwan2 hebat . Yang sering terlupakan , bahwa dia juga harus setuju kalau rasnya bisa juga melahirkan bandit2 terhebat , koruptor2 hebat , penjahat2 terhebat ………….







leave a comment