Politik Dinasti
Untuk saat ini , jaman dulu dan sekarang di indonesia , idol2an masih memegang peranan penting, ….ini masih menjadi tantangan bagi demokrasi di negara kita ini , yang menurut saya terlalu dini (daripada tidak ada sama sekali) bagi rakyat yang tingkat pendidikannya masih kurang. Apalagi untuk mengakses informasi , internet , surat kabar , jadi gak heran selama kondisi masyarakat seperti ini , tapi di paksa ikut dalam pesta demokrasi , yah balik lagi , balik lagi ke klan2 tertentu.
Mega tidak mendadak besar kalau tidak larena nama besar pemimpin besar kita , yaitu sukarno.
Dan PDI-P mendadak jadi besar (lebih besar dari induknya PDI ) dan menjadi pemenang Pemilu pasca orba, bukan oleh sistem yang sudah terbangun mapan , tetapi lagi2 oleh nama besar Mega, yang tentunya nama besar Sukarno juga. Demokrat pun di pemilu sebelumnya , bisa melejit hanya karena popularitas SBY. (tanpa SBY , demokrat mau jadi apa ? Gerindra tanpa Prabowo mau jadi apa?)
Jadi saya tetap berpegang pada tidak pro-kontra terhadap kubu capres manapun. (saya hanya pro gus dur) , jadi berusaha netral saja deh.
Point anda saya setujui , kepemimpinan Indonesia harus terbuka lebar , dengan demikian Indonesia akan mendapat pemimpin terbaik , bukan pemimpin (yang daripada tidak ada sama sekali yg di sodorkan, akhirnya “terpaksa” di pilih).
Disisi lainnya , tidak menampik bahwa keturunan pemimpin berpotensi menjadi pemimpin lagi , setidaknya dari lahir mereka sudah berada pada lingkungan tersebut. Seperti klan Bush , klan kennedy yang tragis .
Potensi politik dinasti baru kentara jika si bapak di lanjutkan oleh anak , Karena dinasti itu berarti kecenderungan pada KONTINUITAS kepemimpinan , seperti Kim Il Sung terhadap Kim Jong Il dan Chiang Kai Sek terhadap Chiang Ching Kuo
Kalau kebetulan kandidat terbaik berasal dari klan lama , why not. Asal jangan menjadi kecenderungan aji mumpung deh , mumpung berkuasa , lantas menebar kroni2 dan keluarga2 di posisi penting.
China Remaking Europe

China Remaking Europe
Tulisan ini adalah reposting tulisan saya di milist komunitas tionghoa untuk menanggapi tulisan ngawur Ir Njoo Long Hio. Bisa juga di liat di ..
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/38464
Link terkait oleh saudara Ardian C
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/38396
Saya persempit bahasan ini kepada , seberapa jauh pengaruh timur terhadap barat.
Tanpa banyak di ketahui , pengaruh Tiongkok dan Filosofi sangat besar dalam perubahan yang sangat menentukan di Benua Eropa. Hal ini praktis bermula dari terjemahan dari berbagai pengetahuan dan filosofi Tiongkok oleh para Jesuit yang mendapat tempat dalam misinya di Tiongkok (Tentu saja sebelum Jesuit di jegal oleh Dominikan dari belakang).
Penerjemahan Besar2an Dari Tiongkok ke Eropa.
0. Michele Ruggieri 羅明堅(1543-1607) , datang dari Goa mencapai Macao . Menjadi Jesuit pertama yang memakai nama Tiongkok.
1. Gonzales Mendoza (1540 – 1617) . Membuat laporan tertulis pertama The History of the Great and Mighty Kingdom of China and the Situation . Buku ini di terjembahkan ke dalam 7 bahasa.Dan di reprint 28 kali. Edisi pertama muncul di Roma tahun 1585.
2. Matteo Ricci 利瑪竇 (1522 – 1610) , Jesuit paling termashur juga diarynya di edit oleh Nichlas Trigault,SJ dan diberi judul “De Christiana Expeditione Apud Sinas Suscepta ab Societas Jes “. Diterbitkan tahun 1642 dan iterjemahkan ke dalam 6 bahasa. Selain juga Ricci menerjemahkan banyak buku terutama Confuciusism.
3. Alvarez de Semedo , Tidak seperti umumnya Jesuit yang ada disekitar Peking (Beijing) , Semedo malah tinggal di selatan Tiongkok. Tahun 1625 Semedo mengunjungi X’ian dan menjadi orang Eropa pertama yang recovered Nestorian Tablet. Tahun 1640 Semedo kembali ke Portugis dan membuat laporan “Relacao de Propagacao de fe regno da China e Outros”. Melalui bantuan Manuel de Faria I Sousa di publish kembali dengan judul ” Imperio de La China ( Madrid 1642). Di terjemahkan ke bahasa Italia (1643) , Prancis (1645) , Inggris (1655). Peran Semedo dalam fenomena sinophile di Eropa cukup besar karena bukunya mencakup Tiongkok secara luas ,mulai dari habit , bahasa, permainan , pernikahan , senjata militer , nobility, pemerintahan , muslim Tiongkok , Yahudi di Tiongkok.
4. Martino Martini 衛匡國 (1614-1661) menulis saat Manchu menguasai Tiongkok (De Bello Tartaric Historia) yang mencapai sukses di Eropa dan dibuat dalam 28 edisi dan 8 bahasa. Martini juga Diterjemahkan kedalam 9 bahasa dan 21 edisi . Martini juga menyiapkan Novus Atlas Sinensis (1655). Atlasnya bisa di download http://www.library.csuhayward.edu/atlas/reprod_index.htm
5. Athanasius Kircher (1601 – 1682) , menulis “China Ilustrata , dan diterbitkan di Amsterdam(1667)
6. Jean Bapttist Halde , menulis buku ” Description geographique , historique , chronologique, politique et pshysique de l’ Empire de la Chine et de la Tartarie Chinoise. (1735)
7. Tao Te Ching , muncul di British Royal Society (1788)
8. Philippe Couplet 柏应理(1623 – 1693) mempublikasikan terjemahan dari , The Analects, Doctrine of The Mean , Great Learning.(1687)
9. Francois Noel
a. Da Xue (Great Learning)
b. The Zhong Yong ( Doctrine of The Mean)
c. The Lun Yu (Analects
10. Christian Wolff mengkaji buku tulisan Francois Noel dalam Acta Eruditorum (1711-12). Dan Wolff (Oratio de Sinarum Philosophia)
11. Leibniz menulis “Novissima Sinica” 1697
12. Theophil Sigfried Bayer (1694 – 1738) berhubungan dengan jesuit dari Prancis yang sedang berada di Beijing , lantas menulis buku the horis sinicis et cyclo hororario .(St Petersburg 1735)……..(kamus latin -
chinese)
13. Voltaire (1694-1778) , De La Chine Article (1764)
**
Leibniz
Leibniz ,seorang ilmuwan genius yg terkenal, Ketertarikan Leibniz terhadap Tiongkok di mulai pada tahun 1668 setelah membaca buku2 terjemahan tentang tiongkok. 1689 Leibniz bertemu dengan seorang Jesuit , Claudio Filipo Grimaldi yang menjadi jembatan Leibniz untuk bekorespodensi dengan jesuit2 yang sedang berada di tiongkok.1697 Leibniz mempublikasikan “Novissima Sinica” kumpulan document Tiongkok termasuk perjanjian Treaty of Nerchinsk antara Russia dan Tiongkok. Koresponden Leibniz dan Joachim Bouvet (白晋) berlangsung dalam 14 kali surat menyurat. Bouvet bahkan sempat mengajari Kaisar Kang Xi . Bouvet fokus pada I – Ching . Dan dari hasil korespondensi itu Leibniz berkenalan dengan I Ching , mengilhami sistem bilangan biner Leibniz. (more…)
Budaya Tionghoa dan Judi
Berjudi itu adalah kombinasi dari sifat ketidakpastian dari waktu yang terus bergerak dengan perilaku manusia sebagai homo ludens, mahluk yang gemar bermain.
Berjudi sering di pandang rendah oleh masyarakat karena permainan dilakukan dalam waktu relative singkat dan ekspektasi yang liar antara semakin kaya atau kehilangan harta sama sekali. Kekalahan dalam waktu singkat inilah yang seolah-olah begitu meremehkan uang yang di raih dari memeras keringat setiap hari dan lantas menguap begitu saja. Jadi sifat instantnya sendiri yang membuat judi begitu di haramkan dan diremehkan.
Sementara manusia tanpa melempar atau dengan melempar dadu , tanpa bermain atau dengan bermain kartu tetap saja berhubungan dengan ketidakpastian. Jadi dalam hakikat kehidupan yang sebenarnya , manusia senantiasa berjudi dengan dirinya, hanya saja berbeda wujudnya dan derajatnya. (more…)





leave a comment