Writing And Being

Siddhartha – Hermann Hesse

Posted in Nobel Sastra by Dada on January 18, 2008

150px-siddhartha_novel.jpg

Penulis : Hermann Hesse

Judul Asli : Siddharta

Negara : Jerman – Swiss

Genre : Alegori Buddha

ISBN :

Buku ini menceritakan proses menuju pencerahan dari seorang pemuda yang bernama Siddhartha. Siddhartha di ceritakan sejaman dengan Buddha Gautama. Perjalanan Siddhartha pada awalnya serupa dengan Gautama. Terlahir dari keluarga brahmana, lantas meninggalkan segala kebesaran duniawi dan mengakrabi kemiskinan dan penderitaan untuk mencapai pencerahan. Lantas , Siddhartha bertemu dengan Buddha Gautama. Gautama sendiri memperingatkan Siddhartha bahwa kecerdasannya sangatlah luarbiasa sekaligus berbahaya. Siddhartha—seperti halnya Socrates—dengan lantang menyerukan bahwa kebenaran sejati itu tidak bisa diajarkan, bahkan ajaran Buddha sekalipun. Kesadaran akan kebenaran sejati itu harus di cari dan bergantung pada usaha masing – masing.

Pertemuan antara Siddhartha dan Gautama menjadi titik bifurkasi bagi Siddhartha. Untuk selanjutnya Siddhartha mengambil jalan yang jauh berbeda dari Gautama dalam mencari pencerahan, dengan jalan yang berliku dan tidak terduga. Mulai dari mengakrabi seorang pelacur bernama Kamala, dunia kenikmatan tiada batas. Lantas terjerumus ke dunia perjudian, hingga akhirnya bertemu dengan seorang pengayuh sampan yang akan merubah seluruh pola pikir Siddhartha. Akankah Siddhartha dapat mengejar kertinggalannya dari Gautama. Sungguh menarik dan mendebarkan untuk disimak.

Kualitas tulisan allegorical Hermann Hesse sangat luar biasa indah, mengalirkan bagaikan aliran air sungai yang mengantar pembaca terhanyut dari derasnya kata – kata menuju kesunyian lautan yang luas.

Gulag – Aleksandr I. Solzhenitsyn

Posted in Nobel Sastra by Dada on January 14, 2008

11556a08f006e5a02082ceb406f75d90.jpg

Gulag adalah akronim dari Glavnoye Upravleniye Lagere, Pusat Administrasi Kamp Kerja. Solzhenitsyn boleh dibilang orang pertama yang memperkenalkan dan memakai istilah ini dalam kitabnya yang kini menjadi klasik, Kepulauan Gulag (Archipelag Gulag, tiga jilid, 1973-1978)

Sanya, nama kecil Solzhenitsyn, berharap menjadi sastrawan sedari muda , tapi perjalanan hidupnya beralih kebidang science matematika. Ditengah kecamuk perang dunia II , Sanya terpanggil untuk membela negaranya berkaitan dengan serbuan Jerman di musim panas 1941 (operasi barbarosa) , dan menjadi komandan di garis depan. Kebencian terhadap Stalin mulai tumbuh yang dinilah sebagai penyebab luluh lantaknya negri itu menghadapi serbuan Jerman. Dalam sebuah surat korespodensi yang ternyata di sensor oleh agen-agen Kremlin, menghantarkan Sanya ke pengadilan yang memvonisnya bersalah dengan tuduhan penghianatan dan penghinaan terhadap pemimpin tertinggi Stalin.

Jika Jerman dibawah kekuasaan Hitler melakukan kekejaman kamp kerja paksa yang tertelanjangi di depan dunia akibat kekalahannya, maka kekejaman serupa yang ada di Uni Sovyet di bawah kekuasaan Stalin tetap tertutup rapat. Sanya seperti “beruntung ” dapat memasuki neraka yang tersembunyi dalam sebuah negara , seperti sebuah kepulauan , yang dapat menelan siapa saja, kapan saja , dimana saja tanpa pandang bulu , baik anak kecil yang hanya mencuri segenggam gandum , biarawati yang terhormat , mantan militer dan pejuang bangsa , gadis – gadis belia . Sebuah neraka dengan system penangkapan , interogasi , penyiksaaan yang sistematis , dari derajat yang paling halus hingga yang paling kasar. Iyah , Sanya beruntung , dia yang mendapat kesempatan berharga melukiskan semua pemandangan neraka dunia yang mengerikan tersebut , kedalam sebuah karya sastra yang mengantarkan Sanya meraih nobel sastra tahun 1970 .

Sanya yang memang sempat menjadi sastrawan , menjadikan neraka Gulag ini sebagai sebuah kanvas , tempatnya menaruh kata – kata satiris , sekaligus renungan – renungan dan pencerahan , sebuah pencapaian spriritual yang dapat memahami makna suatu penderitaan , betapapun bengisnya , sebagai berkat yang tersembunyi ….

Dari sudut pandang moral , Kekuasaan dapat di manfaatkan untuk mencapai tingkatan kemakmuran dan kekejian yang tiada batas. Akan tetapi ditengah kegelapan yang pekat , akan selalu ada api – api spiritual yang tetap menyala , yang mencoba untuk bertahan , seraya menularkan kehangatan terhadap sesama.

Bahwa apapun yang buruk menimpa kita semua , jika di telusuri dan di renungkan terus ke masa lampau , dengan sisir yang halus , maka kita akan menemukan bahwa apa yang kita alami itu memang sudah sepantasnya kita terima.

Gulag adalah sebuah karya yang bagus , tempat kita untuk merenungkan apa itu makna2 kehidupan dibalik penderitaan , kisah kisah satir , sejarah Sovyet selama puluhan tahun .

Imre Kertesz – Fateless

Posted in Nobel Sastra by Dada on January 8, 2008

fateless1.jpg

Penulis : Imre Kertesz

Judul Asli : Sorstalanság

Negara : Hungaria

Genre : Otobiografi Novel

 

ISBN : 979-3062-49-5

 

Novel ini menceritakan kisah perjuangan seorang remaja Yahudi bernama George Koves, yang berusia belasan tahun di era Perang Dunia II dan terpaksa harus memasuki kamp kerja paksa, dan berpindah dari satu kamp ke kamp lainnya , dari Buchenwald, Auschwitz, Zeitz. Menarik untuk disimak tentang bagaimana dalam sudut pandang remaja dalam menyikapi pembantaian massal, pelecehan terhadap HAM, proses genocide terhadap bangsanya. Dalam usia belia George Koves memaknai penderitaan dan kekejaman dalam dunia kamp sebagai dunia “yang normal” bahkan lucu. Kamp yang seharusnya menjijikan, berbau anyir, kelam karena hawa kematian digambarkan sebagaimana adanya orang normal yang sedang tinggal dalam rumahnya sendiri yang nyaman.

Penulis novel ini, Imre mendapat hadiah nobel di tahun 2002. Dalam pengalaman nyatanya, dia juga mengalami masa-masa di kamp konsentrasi Buchenwald atau Auschwitz. Dengan kata lain novel ini merupakan cerminan dari pengalaman pribadinya.

Novel ini hampir setara dengan film La Vita e Bella (Life is Beautiful) tentang bagaimana seseorang melihat penderitaan dirinya, penderitaan orang lain , dan rentetan kekejaman yang tidak terlukiskan sebagai dunia yang normal yang harus disikapi dengan gembira.

美しさと哀しみと Utsukushisa to Kanashimi to – Yasunari Kawabata

Posted in Nobel Sastra by Dada on February 9, 2007

kawabata_beauty_l.jpg

Penulis : Yasunari Kawabata

Judul Asli : 美しさと哀しみと Utsukushisa to Kanashimi to

Judul : Keindahan dan Kesedihan

Negara : Jepang

Genre : Sastra

Penerbit : Jalasutra

Halaman : 253

ISBN :

Buku ini merupakan eksplorasi akan sebuah hubungan yang ganjil dan vulgar melibatkan novelis sukses , Oki Toshio, berusia 54 tahun yang telah menikah , dengan reuni perselingkuhan dengan Otoko , seorang pelukis cantik dan sukses berusia 39 tahun . Dari pusaran yang timbul dari masa lalu yang kelam , seorang anak didik Otoko –Keiko berusia 24 tahun masuk dalam pusaran tersebut , memainkan peranan aneh diantara hubungan segitiga tiga generasi tersebut.

Kawabata dengan berani mengungkapkan sebua h gambaran masyarakat modern , dan keganjilan , kesunyian yang tersembunyi dibalik hiruk pikuk masyarakat urban—kesunyian penghuni hutan beton , membuat hasrat bertumpuk – tumpuk dengan derajat keliarannya, menunggu pelampiasan, memungkinkan kisah apapun terjadi.