[Perang Dunia II] Pertempuran Iwojima 1945

Bentara.Asia | Perang Iwojima adalah salah satu perang paling berdarah dalam sejarah Perang Dunia II di Front Pasific. Berlangsung dari 19 Feb – 26 Mar, 1945. Pasukan Jepang di pimpin oleh seorang jendral jenius, Tadamichi Kuribayashi. Popularitasnya seperti Rommel , dihormati kawan dan dihormati musuh.

Tadamichi Kuribayashi

Bulan Juni 1944, Tadamichi Kuribayashi mendapat tugas untuk mempertahankan Iwojima.  Posisi Iwojima sangat strategis. Jika AS berhasil menduduki Iwojima , maka pesawat terbang mereka dapat menjangkau daratan utama Jepang. Kuribayashi lantas membangun sistem pertahanan dengan kekuatan sekitar 18 ribu prajurit menghadapi pasukan Amerika Serikat yang kelak datang dengan kekuatan 110 ribu orang.Dengan kata lain , Kuribayashi menghadapi musuh yang berkekuatan hampir enam kali lipat. Kebijakan Kuribayashi adalah mempertahankan wilayah sampai titik darah penghabisan karena Perang Iwojima merupakan perang decisive yang menentukan nasib bangsa Jepang.

Image hosting by IMGBoot.com

Taktik Kuribayashi merubah doktrin militer Jepang yang sudah baku. Daripada bersikukuh mempertahankan pantai dari kemungkinan serangan pendaratan AS seperti di Normandy, Front Eropa , Kuribayashi lebih memilih strategi posisional , pertahanan statis dengan persenjataan berat. Kuribayashi juga membangun bunker dan tunnel bawah tanah yang belum rampung sepenuhnya saat AS menyerang. Kuribayashi juga mempersiapkan penembak jitu (sniper) di berbagai penjuru pulau , penerbang kamikaze untuk menghantam kapal-kapal raksasa AS dan melakukan instalasi persenjataan tersembunyi. Kuribayashi tahu persis bahwa Jepang tidak mungkin menang dalam perang ini , tetapi Kuribayashi bertekad menghabisi musuh sebanyak mungkin.

“We are here to defend this island to the limit of our strength. We must devote ourselves to that task entirely. Each of your shots must kill many Americans. We cannot allow ourselves to be captured by the enemy. If our positions are overrun, we will take bombs and grenades and throw ourselves under the tanks to destroy them. We will infiltrate enemy’s lines to exterminate him. No man must die until he has killed at least ten Americans. We will harass the enemy with guerilla actions until the last of us has perished. Long live the Emperor!”
Knowing the American forces could not be defeated, he could only hope to inflict a casualty rate so high that the Americans would turn back. Among his numerous letters to his family during WW2 was the note “[y]ou must not expect my survival” that illustrated his unfaltering loyalty despite of certain doom that he knew he could not escape, as according to Bushido code.

Perang Iwojima

Pada tanggal 19 Feb , 1945 , Amerika Serikat datang dengan formasi USS North Carolina , USS Washington dan USS West Virginia. Jumlah pasukan kurang lebih 110 ribu, sekitar 6 kali lipat dari musuh yang akan mereka hadapi. Seratus pesawat bomber mulai menyerang pulau. Bombardir dari udara ini tidak mengusik sama sekali pasukan Jepang yang terlindung aman dalam bungker mereka. Enam jam kemudian , 30 ribu marinir AS dari tiga divisi mendarat di pantai dengan persenjataan penuh. Pada awalnya para marinir mengira pasukan Jepang sudah tamat oleh serangan udara , karena sama sekali tidak ada “sambutan” dari tuan rumah. Di sisi lain , Kuribayashi memang menunggu sampai pasukan musuh berkumpul di Pantai agar dapat di serang balik sekaligus.

Pasukan Jepang kemudian mulai menghantam pasukan AS yang sulit untuk bersembunyi di pulau yang permukaannya cenderung datar. Tembakan artileri menghujani marinir AS dari arah Bukit Suribachi. Setelah melakukan tembakan , pasukan Jepang kembali bersembunyi bersama senjata artileri mereka di balik pelindung baja yang sudah di persiapkan sebelumnya.  Kemudian 40 ribu pasukan tambahan memperkuat pasukan AS di pulau dan mulai merebut setiap langkah demi langkah. Sekitar 100 ribu pasukan bertempur di pulau yang hanya seluas 21 km2 , menjadikan pertempuran ini sangat berdarah. Setiap jengkal di pulau adalah medan pertempuran, Pasukan Jepang yang berada di bawah tanah bisa muncul di mana saja menghadirkan terror bagi para marinir AS.

Kondisi sebelum perang memang tidak seimbang. Kuribayashi menerima tugas negara , sebuah misi yang mustahil untuk menang (mission impossible). AS praktis menguasai udara , unggul kuantitas , dukungan logistik . Sementara Jepang dengan personil yang hanya seperenam dari musuh , mencoba bertahan sebisa mungkin dengan kurangnya dukungan logistik. Setelah kehabisan makanan dan air , pasukan Jepang mulai melakukan serangan banzai dan bertempur sampai mati. Setelah 25 hari perang , AS sudah menguasai keadaan pulau , dan Kuribayashi masih bertahan di markasnya. 21 Maret , Sebuah bom berkekuatan 4 Ton di ledakkan untuk “menutup” markas besar Jepang di pulau itu. Dan

Epilog

Tadamichi Kuribayashi sampai sekarang mayatnya belum pernah di temukan. Pembangunan Tunnel yang belum tuntas sepenuhnya , membuat Kuribayashi terputus kontak dengan anak buahnya yang lain. Pada tanggal 22 Maret , Kuribayashi masih sempat berkomunikasi lewat radio . “Kita masih bertempur” dengan sisa kekuatan yang ada.

On 22 mar, Kuribayashi radioed “[w]e are still fighting…. The strength under my command is now about four hundred. Tanks are attacking us. The enemy suggested we surrender through loudspeaker, but our officers and men just laughed and paid no attention.” On the next day, he sent Chichi Jima this final message, to be relayed on to Tokyo: “All officers of Chichi Jima, goodbye from Iwo”. He reportedly committed ritual suicide, but his body was never found.

Kuribayashi seperti saat Winston Curchill memuji seorang jendral besar musuh – Rommel dengan terang-terangan, dipuji-puji Holland Smith sebagai jendral paling mengagumkan di Front Pasific.  Holland Smith , yang memimpin pasukan AS di Iwojima.

“Of all our adversaries in the Pacific, Kuribayashi was the most redoubtable”, said United States Marine Corps General Holland Smith.

Bentara.Asia | Shinmen Takezo

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s