Letnan Hiroo Onoda – Perwira Jepang Yang Bersembunyi di Hutan Selama 30 Tahun

Bentara.Asia | Hiroo Onoda (小野田 寛郎 ) adalah perwira intelijen kekaisaran Jepang pada masa Perang Dunia II. Dia berusia 22 tahun saat ditugaskan atasannya beroperasi di Pulau Lubang , Filipina. Pada bulan Desember 1944. Letnan Onoda berangkat ke Pulau Lubang untuk melakukan guerilla (gerilya). Alasannya mudah di mengerti. Perang gerilya biasa di lakukan oleh pihak yang lebih lemah atau terdesak. Keadaan Jepang pada saat itu memang sedang krisis , mengalami titik balik kekalahan demi kekalahan. Untuk itulah Onoda di tugaskan.
Image hosting by IMGBoot.comImage hosting by IMGBoot.com
Atasan memerintahkan Onoda untuk tidak melakukkan seppuku apapun yang terjadi , berapapun waktu yang di perlukan dan akan berjanji menjemput kembali jika waktunya tiba. Onoda mematuhi perintah itu kata demi kata. Sayangnya perang telah berakhir tetapi informasi tentang menyerahnya Jepang terhadap Sekutu tidak sampai ke Onoda dan anak buahnya. Selama 29 tahun Onoda tinggal di hutan bersama anak buahnya yang satu persatu tewas dan meninggalkan dia. Bertahan hidup sampai menyerahkan diri pada tanggal 19 Maret 1972.

You are absolutely forbidden to die by your own hand. It may take three years, it may take five, but whatever happens, we’ll come back for you. Until then, so long as you have one soldier, you are to continue to lead him. You may have to live on coconuts. If that’s the case, live on coconuts! Under no circumstances are you [to] give up your life voluntarily.-by Jennifer Rosenberg

Sebelum melaksanakan tugas dengan dukungan yang begitu terbatas. Sekutu mulai membanjiri pulau itu. Pasukan kecil Jepang mulai berserakan dan terbagi-bagi dalam kelompok sel. Onoda dengan kelompoknya terdesak ke bagian dalam pulau. Anak buah yang menyertai Onoda adalah,  Kopral Shoichi Shimada, Prajurit Kinshichi Kozuka (umur 24), Prajurit Yuichi Akatsu (umur 22). Dengan bermodalkan senjata dan perlengkapan seadanya mereka bertahan hidup dengan kelapa atau kadang membunuh ternak penduduk untuk bahan makanan.

Onoda pertama kali melihat selebaran yang menyatakan perang berakhir pada bulan Oktober 1945, sebulan setelah Nagasaki dan Hiroshima dijatuhi bom atom. Anggota yang lain menemukan selebaran lain yang menyebutkan perang telah berakhir 15 Agustus 1945. Di akhir Desember 1945 , sebuah pesawat B-17 juga menyebarkan selebaran berisi informasi dari Jendral Yamashita bawa perang sudah berakhir. Kesimpangsiuran ini menimbulkan kecurigaan dan Onoda menyimpulkan informasi ini adalah propaganda sekutu, hoax.

Kelompok kecil ini lantas hidup bersama-sama selama bertahun-tahun. Kecurigaan terkadang membuat mereka membunuh penduduk lokal yang dikira sebagai musuh. Kelompok ini menjadi sangat terisolasi dari dunia luar. Pada tahun 1949, Akatsu meninggalkan kelompoknya begitu saja dan setelah enam bulan bertualang sendirian , Akatsu menyerah . Karena informasi Akatsu , tim pencari pun di kerahkan untuk mencari Onoda dan kawan-kawan. Kelompok Onoda menganggap kejadian ini sebagai hal yang berpotensi mengancam mereka . Onoda semakin hati-hati sejak saat itu.

Pada tahun 1952 , surat dan foto dari kerabat di jatuhkan , meminta Onoda dan rekannya untuk menyerahkan diri. Mereka kembali menyimpulkan itu sebagai hoax. Dua tahun berlalu , 7 Mei 1954 , Shimada tewas di pantai Gotin , ditembak patroli yang sedang mencari mereka.

Onoda tinggal ditemani Kozuka selama 20 tahun tersisa. Dengan sabar menunggu janji atasan mereka saat memberi perintah mereka di tahun 1944. Onoda hidup sendirian saat Kozuka tewas di tahun 1972 saat sedang menyantap beras curian dari penduduk setempat bersama Onoda. Meskipun Onoda diperkirakan sudah meninggal di tahun 1959 , bukti pada jasad Kozuka menunjukkan Onoda masih hidup. Tim pencari di kerahkan untuk mencari Onoda tapi tidak berhasil.

Pada 20 Februari 1974, Onoda menemukan seorang pria Jepang muda. Anak muda itu kemudian berbalik dan memberi hormat kepadanya. Namanya adalah ,  Norio Suzuki, drop out dari universitas dan kemudian bertekat mengelilingi dunia dengan tiga tujuan , mencari Letnan Onoda , panda dan manusia salju. Ambisi pertama di capai dengan hanya empat hari pencarian. Suzuki lantas menjelaskan bahwa perang telah usai dan meminta Onoda kembali bersamanya ke Jepang. Onoda menolak tawaran itu kecuali mendapat perintah langsung dari atasannya, Mayor Taniguchi. Suzuki lantas berhasil membujuk Onoda untuk mengambil foto bersama sebagai bukti untuk meyakinkan publik Jepang.

Suzuki  kembali ke Jepang dan menemukan mantan komandan Onoda, Mayor Taniguchi, yang telah menjadi seorang penjual buku. Pada tanggal 9 Maret 1974, Suzuki dan Taniguchi bertemu Onoda di tempat yang sudah ditentukan dan Mayor Taniguchi menegaskan bahwa perang sudah berakhir dan misi Onoda sudah berakhir. Taniguchi berhasil meyakinkan Onoda.

Selama 30 tahun yang Onoda telah tetap tersembunyi di  pulau, ia dan anak buahnya telah menewaskan sedikitnya 30 warga Filipina dan melukai sekitar 100 lainnya. Setelah secara resmi menyerahkan diri kepada Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Marcos mengampuni Onoda kejadian yang di lakukan selama masa persembunyian.

Ketika Onoda mencapai Jepang, ia dielu-elukan pahlawan. Onoda terperangah dengan Jepang yang amat berbeda dengan yang dia lihat tiga puluh tahun lalu. Budaya anak muda juga sudah berbeda dengan apa yang dilakoni Onoda sebelum perang. Onoda Hidup di Jepang jauh berbeda dari ketika ia meninggalkannya pada tahun 1944. Onoda lantas mempublikasikan otobiografi , No Surrender : My Thirty-Year War yang berisikan detail kehidupannya sebagai pejuang guerilla. Onoda yang terperangah dengan budaya modern Jepang , kemudian memilih menyusul kakaknya , Tadao , meninggalkan Jepang menuju Brazil. Onoda menikah di tahun 1976 , saat itu Onoda sudah berusia 54 tahun.

Kasus pembunuhan orang tua oleh seorang gadis pada tahun 1980 , membuat Onoda cemas dengan nilai-nilai budaya yang semakin luntur di Jepang. Onoda kembali ke Jepang di tahun 1984 dan mendirikan lembaga pendidikan Onoda untuk generasi muda. Onoda mengunjungi kembali pulau Lubang di tahun 1996, mendonasikan 10 ribu dollar untuk sekolah lokal. Istrinya , Machie Onoda menjadi kepala asosiasi wanita di tahun 2006.

Image  hosting by IMGBoot.com

Onoda Mengunjungi Kembali Pulau Lubang , Filipina

Kisah Onoda menjadi semacam petunjuk dibalik rahasia kebangkitan Jepang. Sebuah contoh kepatuhan terhadap atasan dan cinta tanah air mengalahkan kepentingan diri sendiri. Onoda hidup nelangsa selama tiga puluh tahun adalah kisah heroik yang membuat bulu kuduk berdiri. Bagaimana dia bisa bertahan hidup di tengah kesendirian dan kegelapan absolut , terkucil dari dunia , memandang manusia lain sebagai musuh. Jika kita manusia biasa menghadapi cobaan sebesar itu , saya pribadi angkat tangan . Mungkin saya sudah gila di tahun pertama sebelum masuk 30 tahun

Bentara.Asia | Shinmen Takezo | April 2010 |

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s