Budaya Tionghoa dan Judi
Berjudi itu adalah kombinasi dari sifat ketidakpastian dari waktu yang terus bergerak dengan perilaku manusia sebagai homo ludens, mahluk yang gemar bermain.
Berjudi sering di pandang rendah oleh masyarakat karena permainan dilakukan dalam waktu relative singkat dan ekspektasi yang liar antara semakin kaya atau kehilangan harta sama sekali. Kekalahan dalam waktu singkat inilah yang seolah-olah begitu meremehkan uang yang di raih dari memeras keringat setiap hari dan lantas menguap begitu saja. Jadi sifat instantnya sendiri yang membuat judi begitu di haramkan dan diremehkan.
Sementara manusia tanpa melempar atau dengan melempar dadu , tanpa bermain atau dengan bermain kartu tetap saja berhubungan dengan ketidakpastian. Jadi dalam hakikat kehidupan yang sebenarnya , manusia senantiasa berjudi dengan dirinya, hanya saja berbeda wujudnya dan derajatnya.
Orang bermain saham juga tidak ada bedanya dengan berjudi , hanya saja tampak begitu terhormat. Saat berkerja juga , seseorang akan berhadapan dengan opsi-opsi , terus berkerja atau berhenti berkerja , dengan segala resikonya. Lantas seseorang berhenti berkerja dan merintis usaha , dalam posisi ini dia berjudi lagi dengan dirinya apakah penghasilan dari usaha dapat menggantikan gaji yang lebih konstan (dan stagnan) atau malah mengalami kegagalan usaha. Dalam memilih pasangan hidup , seseorang lagi – lagi berjudi , apakah pasangannya ini dapat sejalan dengan dirinya , atau malah baru melepas bulu dombanya setelah menikah. Dari contoh – contoh aktivitas manusia sehari – hari terlihat jelas manusia senantiasa bertaruh setiap mengambil keputusan apapun , setiap melakukan apapun , bahkan do nothing juga merupakan sebuah opsi yang malah seringkali lebih menguntungkan.
Setiap pertaruhan memiliki resikonya masing – masing. Aku yang semakin kaya , atau kamu yang semakin miskin atau sebaliknya. Hubungan dagang antara negara pun mengalami surplus dan deficit. Setiap pedagang yang sukses akan memangsa pesaingnya, pembeli datang ke satu toko meninggalkan toko lainnya. Kekayaan Soros bertambah dari pertaruhannya, sementara kawasan Asia terkena flu ekonomi.
Orang tionghoa memang gemar berjudi seperti pada umumnya. Bahkan anak-anak muda tionghoa sudah pandai bertaruh mulai usia remaja dalam pertaruhan judi sepakbola. Negatif memang , karena yang dipertaruhkan seringkali uang saku pemberian orang tuanya untuk bekal anaknya kelak. Tapi itu dalam permukaan luar saja yang seringkali terlihat negatifnya saja, tetapi sebenarnya menunjukkan perilaku tionghoa yang risk taker.
Makna orang tionghoa yang gemar dan pandai berjudi dalam arti yang lebih dalam, dalam kehidupan , memperlihatkan orang tionghoa berani menempuh resiko untuk merubah nasibnya, kalau perlu menempuh dunia baru yang tidak dikenal mencoba peluang lain (etnis dengan diaspora terbesar di dunia), meminimalkan resiko kegagalan dengan menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu (menabung, hidup hemat). Orang tionghoa juga sangat pandai berinvestasi dalam hal – hal yang paling hakiki, misalkan investasi pendidikan sang anak(generasi muda) dalam keluarga dianggap paling penting. Kalau perlu orang tua makan seadanya , agar sang anak dapat sekolah yang layak dan makan yang layak.
Jadi saya sih setuju saja kalau dikatakan orang tionghoa suka berjudi dalam wujud-wujud yang lebih luas daripada sekedar bermain capsah. Mental berjudi ini lah yang membuat orang tionghoa sangat unggul sebagai pedagang.




