Writing And Being

Memoirs of A Geisha

Posted in Movie by Dada on January 5, 2006

geisha_033.jpg

Chiyo (bakal Nitta Sayuri—Zhang Zhi Yi) adalah gadis kecil berusia sembilan tahun yang tinggal di kota kecil Yoroido di pinggir pantai yang penduduknya kebanyakan adalah nelayan. Wajahnya yang cantik dan matanya yang unik dan berwarna biru kelabu membuat dirinya menarik perhatian Tuan Tanaka. Dan akhirnya membuat Chiyo dan dan Satsu, kakaknya dibawa ke Kyoto , ke sebuah Okiya dikawasan Gion. Jika Chiyo dianggap layak menjadi bakal geisha, maka kakaknya langsung dipisahkan dan dijual ke rumah pelacuran. Di Okiya itu , Chiyo sebagai yang paling junior sering ditugaskan melakukan pekerjaan2 rumah seperti layaknya pembantu rumah tangga walaupun Chiyo mulai masuk sekolah bersama teman kecilnya yang dijuluki “Labu”. Hatsumomo (Gong Li)—geisha seniornya dan salah satu geisha yang tercantik di Kyoto pada masa itu—sering memperlakukannya dengan kejam dan memfitnahnya. Bahkan Hatsumomo dengan liciknya menyuruh Chiyo untuk merusak kimono saingannya, Mameha (Michelle Yeoh). Hutang Chiyo terus bertambah. Dan suatu ketika upaya Chiyo untuk kabur bersama kakaknya mengalami kegagalan. Nyonya Nitta (pengurus Okiya) menghukumnya menjadi pelayan seumur hidup dan tidak akan dijadikan sebagai geisha, akibatnya Chiyo mungkin akan berkerja seumur hidupnya untuk membayar hutangnya sebagai pelayan. Tetapi surat dari Tuan Tanaka yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Chiyo sudah meninggal dan kakaknya telah kabur membuat Chiyo mulai memikirkan masa depannya sendiri karena tidak bisa mengandalkan siapa2 lagi. Pertemuannya dengan Tuan Iwamura Ken (Ken Watanabe) menjadi titik balik dalam kehidupannya, Chiyo merasakan bahwa dunia ini masih menyisakan sedikit kebaikan bagi dirinya, dia terpesona kehangatan dengan pria yang jauh lebih tua, dan sejak saat itu Chiyo memutuskan untuk menjadi Geisha. Harapannya ini terwujud saat Mameha mendatangi nyonya Nitta dan menawarkan diri menjadi kakak angkatnya, suatu tawaran yang sulit ditolak oleh nyonya Nitta, mengingat reputasi Mameha sebagai geisha nomor satu di Gion. Dan daya tarik utama dari kisah ini adalah intrik-intrik diantara kedua geisha papan atas ini untuk saling menjatuhkan.

Film ini menyajikan kehidupan geisha secara artistic sekaligus kelam tetapi cukup merubah pemahaman banyak orang bahwa geisha bukanlah seorang pelacur. Adaptasi dari novel aslinya cukup banyak menghadirkan pemenggalan, perubahan kronologis, dan perubahan disana-sini. Walau film ini cukup artistic, tapi tidak sedalam novelnya tentang mengupas pemahaman mengenai dunia geisha ini. Dan tampaknya scenario dipaksakan untuk disesuaikan pada ketiga artis internasional China ini, bukan sebaliknya. Banyak deskripsi yang tidak terwakili dalam film ini , yang tampaknya demi alasan komersial.

*******

Konon sejarah geisha dimulai dari awal pemerintahan Tokugawa , dimana Jepang mulai memasuki masa damai, dan daimyo tidak begitu disibukkan lagi oleh masalah-masalah perang. Dan kegiatan hiburan mulai tumbuh.
Geisha berarti seniman, seorang bakal geisha harus menjalani pelatihan seni yang berat selagi usia dini. Berlatih alat musik petik shamizen yang membuat calon geisha harus merendam jarinya di air es. Berlatih alat musik lainnya juga seperti tetabuhan kecil hingga taiko. Berlatih seni tari yang menjadi kunci kesuksesan seorang geisha, karena geisha papan atas umumnya adalah penari, tari Topeng Noh yang sering dimainkan oleh geisha dihadirkan bagi masyarakat kelas atas berbeda segmennya dengan pertunjukkan Kabuki yang lebih disukai rakyat jelata. Berlatih seni upacara minum teh, yang pada masa medieval dianggap sama pentingnya dengan seni perang. Dan berbagai latihan berat lain yang harus dijalani. Dan latihan itu masih terus dijalani setiap geisha hingga akhir karirnya.
Bakal geisha sedari awal menginjakkan kakinya ke rumah barunya , sudah memiliki hutang awal sebesar biaya yang dikeluarkan pemilik Okiya untuk membelinya. Sungguh Ironis. Hutang itu terus bertambah, Karena biaya pendidikan geisha, biaya perawatan kecantikan, biaya dokter yang ditalangi oleh Okiya, nyatanya dibebankan balik sebagai hutang geisha. Geisha dengan level standar akan terus terikat hingga akhir hayatnya, berbeda dengan geisha sukses yang dapat menebus kembali kebebasannya sebelum mencapai usia 20 tahunan.
Syarat menjadi geisha sukses umumnya memiliki kakak angkat yang merupakan geisha senior sukses pula , sehingga dapat mengatrol popularitas si geisha magang. Sementara geisha senior yang sukses juga tidak mau sembarangan menerima adik angkat, karena menyangkut nama baik pula. Tetapi memiliki adik angkat yang sukses akan berarti keberuntungan pula bagi yang dirinya, seniornya dan okiya-nya, karena mereka sekian persen pendapatan si geisha muda tersebut. Selain itu geisha muda juga harus melelang keperawanan kepada penawar tertinggi, pendapatan dari lelang yang sukses itu dapat menebus sebagian hutang geisha muda tersebut. Setelah itu mereka harus mencari danna(“suami”) sekaya mungkin, agar dapat membiayai biaya hidup geisha yang tinggi, dan juga membayari sebagian hutang-hutang geisha tersebut terhadap majikan mereka.
Geisha yang sukses dalam suatu okiya akan diadopsi oleh nyonya mereka, dan menggunakan nama “keluarga” dari nyonya tersebut dan mewarisi segala kekayaan seisi rumah tersebut. Lalu meneruskan tradisi geisha.

Leave a Reply