Cinderella Man
Setting waktu dari film ini adalah “Great Depression” yang melanda USA di era pemerintahan presiden Franklin Delano Roosevelt , menyusul kejatuhan bursa saham nasionalnya. Akibatnya angka pengangguran dan kelaparan melanda negri ini. Dan pada masa sulit-sulit seperti itu, tinju adalah salah satu dari jalan pintas untuk mendapatkan ketenaran dan kemakmuran. Dalam masa inilah James Braddock hidup bersama istri dan anak-anaknya dalam suasana memprihatinkan. Russel Crowe yang memerankan tokoh James Braddock dengan sangat baik, digambarkan sebagai ayah yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, melakukan apa saja demi keluarganya, mulai dari berkerja serabutan, mengemis-ngemis, hingga rela dibayar 50 dollar untuk pertandingan come back-nya. Dan perut yang berbunyi tanda kelaparan dalam pertandingan come-back pertamanya. Dan dari letih dan lesu seusai bertanding dengan “riang” dia memberikan uang “kecil” itu buat keluarganya. Hiks,
The Butterfly Effect
Film dengan kedalaman ide yang luar biasa. Film ini dibuka dengan kutipan “Chaos Theory”, contoh paling populer dari konsep ini adalah kibasan sayap kupu-kupu di Hawaii yang menjadi sebab utama badai di Karibia. Para praktisinya telah berhasil menangkap kupu-kupu tetapi mereka belum menangani semua aliran angin yang didorong oleh sayap kupu-kupu itu. Apakah ini cukup relevan dengan kelakar Archimedes, disaat dia menemukan pengungkit? “Beri saya tempat untuk berpijak, maka saya bisa menggerakan bumi.” Atau seinchi hidung Cleopatra dinilai turut menentukan sejarah dunia. Leibniz pernah berkata kepada Jacoub Bernoulli: “Alam telah menentukan pola menciptakan kejadian, tetapi hanya untuk sebagian besarnya saja.”
Sekedar intermezzo, Bernoulli dan Einstein adalah ilmuwan yang sangat memperdulikan perilaku didunia alamiah, namun manusia harus menghadapi perilaku sesuatu diluar pola alam, yaitu manusia itu sendiri. Mahasiswa pengikut teori “Kekacauan” (Chaos) menolak keseimbangan pada kurva lonceng sebagai deskripsi tentang realitas. Dunia ini terhadap penyimpangan terhadap norma yang tidak tersebar secara simetris di kedua sisi rata-rata, seperti yang diproyeksikan dalam distribusi normal Gauss. Dan sebelum review ini semakin condong pada jurnal ilmiah akan saya hentikan.
A Moment To Remember.
Awal dari film ini seperti umumnya film-film romantis lainnya. Choi Chul Soo(Jeong Woo-Seong) adalah pria yang memiliki lisensi arsitek tapi gagal dalam mewujudkan impiannya dan harus mengisi hari-harinya sebagai seorang “tukang kayu” disebuah proyek, berperangai kasar, impulsif dan kompulsif. Sementara Kim Su Jin (Sun Ye-Jin) memiliki status ekonomi dan sosial yang lebih tinggi, merupakan gadis yang lembut, sabar dan bisa memberikan pengaruh yang baik kepada Chul Soo. Akhirnya mereka menikah walaupun sebelumnya ditentang oleh orang tua Su Jin. Sepertinya cerita ini akan bergulir biasa, tapi perkembangan ceritanya begitu indah. Konflik pertama adalah hubungan antara Chul Soo dengan ibunya yang tidak harmonis, Su Jin menunjukkan kharakter bagaimana menjadi istri yang baik. “ Jika kamu itu seorang tukang kayu yang baik, tidak saja kamu dituntut untuk membangun sebuah rumah yang baik , tapi juga membangun ruang dalam hati. Memafkan adalah salah satunya cara untuk menyediakan ruang didalam hati.” Konflik kedua adalah saat Su Jin diketahui menderita Alzheimer, dengan kemungkinan terburuk kerusakan memori, termasuk memori akan keluarganya dan suaminya. Dan yang lebih parah lagi adalah memori yang terlebih dahulu “terhapus” adalah recently memori. Secara keseluruhan, film ini adalah gambaran sebuah hubungan cinta yang mendalam antar dua insan manusia. Menurut saya, ini film drama romantis Korea terbaik yang pernah saya tonton.
Memoirs of A Geisha
Chiyo (bakal Nitta Sayuri—Zhang Zhi Yi) adalah gadis kecil berusia sembilan tahun yang tinggal di kota kecil Yoroido di pinggir pantai yang penduduknya kebanyakan adalah nelayan. Wajahnya yang cantik dan matanya yang unik dan berwarna biru kelabu membuat dirinya menarik perhatian Tuan Tanaka. Dan akhirnya membuat Chiyo dan dan Satsu, kakaknya dibawa ke Kyoto , ke sebuah Okiya dikawasan Gion. Jika Chiyo dianggap layak menjadi bakal geisha, maka kakaknya langsung dipisahkan dan dijual ke rumah pelacuran. Di Okiya itu , Chiyo sebagai yang paling junior sering ditugaskan melakukan pekerjaan2 rumah seperti layaknya pembantu rumah tangga walaupun Chiyo mulai masuk sekolah bersama teman kecilnya yang dijuluki “Labu”. Hatsumomo (Gong Li)—geisha seniornya dan salah satu geisha yang tercantik di Kyoto pada masa itu—sering memperlakukannya dengan kejam dan memfitnahnya. Bahkan Hatsumomo dengan liciknya menyuruh Chiyo untuk merusak kimono saingannya, Mameha (Michelle Yeoh). Hutang Chiyo terus bertambah. Dan suatu ketika upaya Chiyo untuk kabur bersama kakaknya mengalami kegagalan. Nyonya Nitta (pengurus Okiya) menghukumnya menjadi pelayan seumur hidup dan tidak akan dijadikan sebagai geisha, akibatnya Chiyo mungkin akan berkerja seumur hidupnya untuk membayar hutangnya sebagai pelayan. Tetapi surat dari Tuan Tanaka yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Chiyo sudah meninggal dan kakaknya telah kabur membuat Chiyo mulai memikirkan masa depannya sendiri karena tidak bisa mengandalkan siapa2 lagi. Pertemuannya dengan Tuan Iwamura Ken (Ken Watanabe) menjadi titik balik dalam kehidupannya, Chiyo merasakan bahwa dunia ini masih menyisakan sedikit kebaikan bagi dirinya, dia terpesona kehangatan dengan pria yang jauh lebih tua, dan sejak saat itu Chiyo memutuskan untuk menjadi Geisha. Harapannya ini terwujud saat Mameha mendatangi nyonya Nitta dan menawarkan diri menjadi kakak angkatnya, suatu tawaran yang sulit ditolak oleh nyonya Nitta, mengingat reputasi Mameha sebagai geisha nomor satu di Gion. Dan daya tarik utama dari kisah ini adalah intrik-intrik diantara kedua geisha papan atas ini untuk saling menjatuhkan.
(more…)
The Exorcist Of Emily Rose
Film ini mengisahkan kisah nyata seorang gadis muda yang tiba-tiba dirasuki enam roh jahat saat dia kuliah. Kasus ini lantas bergulir kemasalah hukum, Father More yang bertanggungjawab atas gadis itu didakwa dengan tuduhan mencegah larangan medis yang dinilai dapat menyelamatkan nyawa anak itu. Pertanyaannya adalah: Kenapa gadis yang taat beribadah bisa dirasuki roh-roh jahat seperti LEGION –yang menurut pengakuan roh jahat itu sendiri telah merasuki pula Kain (Anak Adam yang membunuh adiknya sendiri Habel) dalam kitab GENESIS, Yudas Iskariot yang menghianati gurunya dan juga NERO kaisar ROMA gila yang karena hobi dalam kegiatan seksual dan hobby membakar, lantas namanya diabadikan dalam salah satu program ‘dapur rekaman” paling populer saat ini, yaitu NERO.
Yang menarik, pengacara wanita yang membela Father More ini justru berpandangan agnostic—yang tentu saja tidak percaya akan eksistensi roh-roh jahat. Setelah bergumul dalam kasus ini, pengacara wanita ini akhirnya mengalami sendiri sebuah EKSISTENSI –apa yang semula tidak ia yakini. Dan singkat saja – dalam sidang pengadilan ternyata terungkap, sebuah dialog saat proses “exorcism” of Emily Rose, dialog antara roh jahat dengan father More dalam bahasa Latin, Father More yang bersikeras ingin mengetahui jati diri/ nama roh2 jahat tersebut, menjadi benang merah utama dalam film ini , si roh jahat akhirnya menyebut : one, two, three, four, five, six ……….i’m the one who dwelling with (cmiiw) CAIN (Kain) , Yudas dan Nero.




leave a comment