Politik Dinasti
Untuk saat ini , jaman dulu dan sekarang di indonesia , idol2an masih memegang peranan penting, ….ini masih menjadi tantangan bagi demokrasi di negara kita ini , yang menurut saya terlalu dini (daripada tidak ada sama sekali) bagi rakyat yang tingkat pendidikannya masih kurang. Apalagi untuk mengakses informasi , internet , surat kabar , jadi gak heran selama kondisi masyarakat seperti ini , tapi di paksa ikut dalam pesta demokrasi , yah balik lagi , balik lagi ke klan2 tertentu.
Mega tidak mendadak besar kalau tidak larena nama besar pemimpin besar kita , yaitu sukarno.
Dan PDI-P mendadak jadi besar (lebih besar dari induknya PDI ) dan menjadi pemenang Pemilu pasca orba, bukan oleh sistem yang sudah terbangun mapan , tetapi lagi2 oleh nama besar Mega, yang tentunya nama besar Sukarno juga. Demokrat pun di pemilu sebelumnya , bisa melejit hanya karena popularitas SBY. (tanpa SBY , demokrat mau jadi apa ? Gerindra tanpa Prabowo mau jadi apa?)
Jadi saya tetap berpegang pada tidak pro-kontra terhadap kubu capres manapun. (saya hanya pro gus dur) , jadi berusaha netral saja deh.
Point anda saya setujui , kepemimpinan Indonesia harus terbuka lebar , dengan demikian Indonesia akan mendapat pemimpin terbaik , bukan pemimpin (yang daripada tidak ada sama sekali yg di sodorkan, akhirnya “terpaksa” di pilih).
Disisi lainnya , tidak menampik bahwa keturunan pemimpin berpotensi menjadi pemimpin lagi , setidaknya dari lahir mereka sudah berada pada lingkungan tersebut. Seperti klan Bush , klan kennedy yang tragis .
Potensi politik dinasti baru kentara jika si bapak di lanjutkan oleh anak , Karena dinasti itu berarti kecenderungan pada KONTINUITAS kepemimpinan , seperti Kim Il Sung terhadap Kim Jong Il dan Chiang Kai Sek terhadap Chiang Ching Kuo
Kalau kebetulan kandidat terbaik berasal dari klan lama , why not. Asal jangan menjadi kecenderungan aji mumpung deh , mumpung berkuasa , lantas menebar kroni2 dan keluarga2 di posisi penting.
How about General Eric Shinseki – US Army Chief of Staff 1999 – 2003
Chenney dan Rumsfeld menjadi anggota inti dari proyek yang di namakan New American Century , (PNAC) ……yang di bentuk oleh aktivist Neocon seperti William Kristol , Paul Wolfowitz. Begitu gencar mendesak Clinton saat itu untuk mengambil peranan dalam mengganti rejim di Irak.
Dan setelah 9/11 kelompok yang anda katakan hawkish di gedung putih ini menjadi tidak terbendung lagi
The often-overlooked subplot of the wars of the post-9/11 period is the outsourcing and privatization they have entailed. From the moment the Bush team took power, the Pentagon was stacked with ideologues like Paul Wolfowitz, Douglas Feith, Zalmay Khalilzad, and Stephen Cambone and with former corporate executives-many from large weapons manufacturers-like Under Secretary of Defense Pete Aldridge (Aerospace Corporation), Army Secretary Thomas White (Enron), Navy Secretary Gordon England (General Dynamics), and Air Force Secretary James Roche (Northrop Grumman). The new civilian leadership at the Pentagon came into power with two major goals: regime change in strategic nations and the enactment of the most sweeping privatization and outsourcing operation in U.S. militaryhistory-a revolution in military affairs. After 9/11 this campaign became
unstoppable. ( Dari buku , Black Water – Jeremy Scahill , halaman 12)
Disisi lain Doktrin Rumsfeld :
” We must promote a more entrepreneurial approach: one that encourages people to be proactive, not reactive , and to behave less like bureaucrats and more like venture capitalist” (Rumsfelds , 2002) …..
Hal ini membuka jalan bagi peran mercenary dalam warfare modern , dan juga bagi Erik Prince , bossnya Black Water , seorang kristen right wing , untuk mengambil peran lebih besar dalam perang Irak. Bukan perang Irak saja , melainkan Black Water berusaha melakukan lobby2 untuk berkiprah di Sudan , Darfur untuk mendepak Perusahaan Minyak China disana . Black Water juga terlibat dalam beberapa aksi death squads di sejumlah daerah Iraq. Rumsfelds juga sibuk membantah isue . ‘Salvador Option’ yang berusaha menganalogikan apa yang terjadi di Irak dengan El Salvador. Dimana Pasukan lokal yang di latih oleh USA di Salvador juga terlibat dalam pembantaian terhadap sipil dan guerilla.
Black- water has been one of the most effective battalions in Rumsfeld’s war on the Pentagon, and Prince speaks boldly about the role his company is playing in the radical transformation of the U.S. military.”When you ship overnight, do you use the postal service or do you use FedEx?”
Sementara RRT memainkan sinkang di Sudan , di negara mana terkandung kekayaan uranium dan minyak. USA dengan Bush dan di iringi dayang2 hawkish memang ternyata memainkan gwakang, baik di Irak maupun di Afghan. Yang hasilnya tidak menggembirakan seperti yang anda jabarkan.
Rumsfeld memperperhitungkan bahwa USA akan di anggap sebagai tentara pembebas , (dari Saddam). Padahal yang merasakan demikian cuman etnis Kurdi. Saat Bremer hadir di Baghdad dengan setumpukan agenda privatisasi di Iraq , sudah jelas kepentingan USA di Iraq bukan lagi sebagai tentara pembebas tapi sebagai vampire penyedot minyak. Senjata pemusnah sama sekali tidak di temukan , tapi minyak begitu berlimpah disana.
Kalau boleh saya tahu , kenapa Shinseki yang mengusulkan penambahan personel AD dalam operasi Iraq , sampai harus membayar harga semahal itu atas usulannya. Apa ini ada kaitannya dalam usaha Rumsfeld memberi jatah komersial terhadap Prince.
China Remaking Europe

China Remaking Europe
Tulisan ini adalah reposting tulisan saya di milist komunitas tionghoa untuk menanggapi tulisan ngawur Ir Njoo Long Hio. Bisa juga di liat di ..
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/38464
Link terkait oleh saudara Ardian C
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/38396
Saya persempit bahasan ini kepada , seberapa jauh pengaruh timur terhadap barat.
Tanpa banyak di ketahui , pengaruh Tiongkok dan Filosofi sangat besar dalam perubahan yang sangat menentukan di Benua Eropa. Hal ini praktis bermula dari terjemahan dari berbagai pengetahuan dan filosofi Tiongkok oleh para Jesuit yang mendapat tempat dalam misinya di Tiongkok (Tentu saja sebelum Jesuit di jegal oleh Dominikan dari belakang).
Penerjemahan Besar2an Dari Tiongkok ke Eropa.
0. Michele Ruggieri 羅明堅(1543-1607) , datang dari Goa mencapai Macao . Menjadi Jesuit pertama yang memakai nama Tiongkok.
1. Gonzales Mendoza (1540 – 1617) . Membuat laporan tertulis pertama The History of the Great and Mighty Kingdom of China and the Situation . Buku ini di terjembahkan ke dalam 7 bahasa.Dan di reprint 28 kali. Edisi pertama muncul di Roma tahun 1585.
2. Matteo Ricci 利瑪竇 (1522 – 1610) , Jesuit paling termashur juga diarynya di edit oleh Nichlas Trigault,SJ dan diberi judul “De Christiana Expeditione Apud Sinas Suscepta ab Societas Jes “. Diterbitkan tahun 1642 dan iterjemahkan ke dalam 6 bahasa. Selain juga Ricci menerjemahkan banyak buku terutama Confuciusism.
3. Alvarez de Semedo , Tidak seperti umumnya Jesuit yang ada disekitar Peking (Beijing) , Semedo malah tinggal di selatan Tiongkok. Tahun 1625 Semedo mengunjungi X’ian dan menjadi orang Eropa pertama yang recovered Nestorian Tablet. Tahun 1640 Semedo kembali ke Portugis dan membuat laporan “Relacao de Propagacao de fe regno da China e Outros”. Melalui bantuan Manuel de Faria I Sousa di publish kembali dengan judul ” Imperio de La China ( Madrid 1642). Di terjemahkan ke bahasa Italia (1643) , Prancis (1645) , Inggris (1655). Peran Semedo dalam fenomena sinophile di Eropa cukup besar karena bukunya mencakup Tiongkok secara luas ,mulai dari habit , bahasa, permainan , pernikahan , senjata militer , nobility, pemerintahan , muslim Tiongkok , Yahudi di Tiongkok.
4. Martino Martini 衛匡國 (1614-1661) menulis saat Manchu menguasai Tiongkok (De Bello Tartaric Historia) yang mencapai sukses di Eropa dan dibuat dalam 28 edisi dan 8 bahasa. Martini juga Diterjemahkan kedalam 9 bahasa dan 21 edisi . Martini juga menyiapkan Novus Atlas Sinensis (1655). Atlasnya bisa di download http://www.library.csuhayward.edu/atlas/reprod_index.htm
5. Athanasius Kircher (1601 – 1682) , menulis “China Ilustrata , dan diterbitkan di Amsterdam(1667)
6. Jean Bapttist Halde , menulis buku ” Description geographique , historique , chronologique, politique et pshysique de l’ Empire de la Chine et de la Tartarie Chinoise. (1735)
7. Tao Te Ching , muncul di British Royal Society (1788)
8. Philippe Couplet 柏应理(1623 – 1693) mempublikasikan terjemahan dari , The Analects, Doctrine of The Mean , Great Learning.(1687)
9. Francois Noel
a. Da Xue (Great Learning)
b. The Zhong Yong ( Doctrine of The Mean)
c. The Lun Yu (Analects
10. Christian Wolff mengkaji buku tulisan Francois Noel dalam Acta Eruditorum (1711-12). Dan Wolff (Oratio de Sinarum Philosophia)
11. Leibniz menulis “Novissima Sinica” 1697
12. Theophil Sigfried Bayer (1694 – 1738) berhubungan dengan jesuit dari Prancis yang sedang berada di Beijing , lantas menulis buku the horis sinicis et cyclo hororario .(St Petersburg 1735)……..(kamus latin -
chinese)
13. Voltaire (1694-1778) , De La Chine Article (1764)
**
Leibniz
Leibniz ,seorang ilmuwan genius yg terkenal, Ketertarikan Leibniz terhadap Tiongkok di mulai pada tahun 1668 setelah membaca buku2 terjemahan tentang tiongkok. 1689 Leibniz bertemu dengan seorang Jesuit , Claudio Filipo Grimaldi yang menjadi jembatan Leibniz untuk bekorespodensi dengan jesuit2 yang sedang berada di tiongkok.1697 Leibniz mempublikasikan “Novissima Sinica” kumpulan document Tiongkok termasuk perjanjian Treaty of Nerchinsk antara Russia dan Tiongkok. Koresponden Leibniz dan Joachim Bouvet (白晋) berlangsung dalam 14 kali surat menyurat. Bouvet bahkan sempat mengajari Kaisar Kang Xi . Bouvet fokus pada I – Ching . Dan dari hasil korespondensi itu Leibniz berkenalan dengan I Ching , mengilhami sistem bilangan biner Leibniz. (more…)
Tionghoa dan Hubungan Antar Etnis
(cuplikan posting saya di mailing list tionghoa net) http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/65752
Penggolongan Tionghoa
Cie Eva mengemukakan tentang penggolongan tionghoa. Tionghoa Merah Putih yang pro RI , Tionghoa yang berkiblat pada Tiongkok seiring dengan kemajuan RRT, Tionghoa yang pro barat yang lahir di Indonesia dan merasa nyaman tinggal di negara-negara Barat. Sikap Tionghoa juga ada yang antipati terhadap pribumi, ada yang toleran dan lain sebagainya. Lanjutnya lagi , pribumi pun bersikap sama, ada yang toleran, ada yang merah putih, ada yang pro terhadap mayoritas (muslim) sehingga timbul wacana hukum syariah atau negara Islam. Ini tidak sepenuhnya
kutipan bulat-bulat dari apa yang Cie Eva sampaikan , ada juga yang saya tambahkan. Menurut saya pribadi. Sikap anti itu tentu ada , tidak perlu kita tutup-tutupi dan tidak perlu dibesar-besarkan pula. Negara modern seperti USA
pun tidak luput dari kerusuhan rasial. Begitu juga isu rasial yang terjadi di Prancis. Secara natural , manusia cenderung berkelompok, mencari pasangan, berorgarnisasi berdasarkan kesamaan , baik agama , etnis, ideologi dan domisili.
Setelah berkelompokpun tetap saja ada perbedaan. Sifat eksklusif, antipati satu sama lain itu berjenjang. Dalam Tionghoa sendiri terbagi – bagi kedalam beberapa perbedaan pandangan seperti yang Cie Eva sampaikan. Belum lagi ada Tionghoa Bangka , Tionghoa Medan , Tionghoa Pontianak , dan Tionghoa Jawa (Bandung – Surabaya). Menurut asalnya Tionghoa pun terbagi-bagi lagi, ada yang hokkian , tio ciu , hakka dan lain sebagainya. Masing-masing sub memandang dirinya lebih tinggi dan saling memberi stigma satu sama lain. Stigma bahwa Tionghoa Medan (“cimed”) itu ulet , pekerja keras , tp sekaligus binatang ekonomi , tukang tipu. Stigma bahwa Tionghoa Jawa itu ibarat “pseudo fankui” karena dianggap sudah tidak menghargai kebudayaan tionghoa (leluhur) dan juga tidak bisa berdialek.
Jadi kesimpulan lainnya , dalam tubuh Tionghoa pun ada perpecahan. Dan di hierarki yang lebih atas, antara suku2 di Indonesia juga ada sekat-sekat. Friksi-friksi yang terjadi ini akan menghambat roda pembangunan negara ini yang
sarat dengan permasalahan. Ibaratnya, bagaimana seorang anak remaja bisa belajar kalau seisi rumah sibuk bertikai satu sama lain. Begitu kental semangat kedaerahan , sehingga kepala daerah haruslah putra daerah. Ini adalah pertanda bahwa prasangka antar etnis belum lagi tertuntaskan. (more…)
Red Cliff 赤壁
SINOPSIS
1. KAMPANYE MILITER CAO – CAO KE SELATAN.
Film ini dibuka ketika Cao Cao (Zhang Fengyi) berusaha membujuk kaisar dinasti Han untuk menyerang ke selatan yang diduduki oleh Sun Quan dan Liu Bei dengan dalih sebagai pemberontak. Kong Rong menentang Cao Cao terang-terangan dan menuduh balik bahwa Cao Cao lah sang penghianat itu sendiri dengan alasan bahwa marga Sun telah turun temurun menguasai wilayah selatan dan Liu Bei sendiri masih ada hubungan saudara dengan kaisar ( Dinasti Han didirikan oleh Marga Liu , Liu Bang). Upaya Cao Cao untuk membujuk kaisar akhirnya berhasil. (more…)
Manusia dan Bencana : Satu Dekade Kerusuhan Mei
I
Bencana menuai demonstrasi manusia yang tidak lagi bernyawa , terbujur kaku , bergelimpangan disana sini dan menuntut untuk diperhatikan , daripada hanya kematian-kematian individual seorang gembel di jalanan. Yah kematian kolektif memiliki prime time yang penuh dengan slot iklan dan rating yang tinggi, memiliki prestise yang tinggi.Seperti piala Eropa sebentar lagi yang akan menyihir rakyat Indonesia sebulan penuh sehingga tak bakalan sudi bagi kita untuk melirik sepakbola gajah di negri sendiri.
Begitu pula yang terjadi dengan tayangan kematian dari sebuah bencana.Angka statistik yang serba wah memaksa siapapun untuk segera memberi pertolongan semeriah mungkin agar tidak dituduh tidak bermoral . Mari lupakan dulu gembel jalanan yang terancam mati kelaparan . Mari kita lupakan orang – orang sakit disekitar yang merelakan tubuhnya menjadi hotel bintang lima mahluk2 bersel satu, atau yang merelakan perutnya menjadi laboratorium bulog. Tidak ada benefitnya menolong sesuatu yang tidak bakal terliput, tidak ada wartawan yang akan datang , tidak ada kamera yang akan mengabadikan. (more…)
Parodi Demokrasi Untuk Teokrasi Tibet
Segera setelah aksi kerusuhan di Tibet yang di lancarkan orang-orang Tibet sehingga orang-orang Han sebagai pendatang menjadi korban. Barat melihat insiden ini sebagai mangsa empuk yang tidak boleh dilewatkan untuk menggoyang Tiongkok. Apalagi Tiongkok sebentar lagi akan menyelenggarakan event olahraga terakbar abad ini sebagai tuan rumah olimpiade. Event ini sangat penting bagi Tiongkok untuk menunjukkan kepada dunia sebagai expo keberhasilan mereka. Hal ini sangat tabu bagi pesaingnya , yaitu negara-negara kuat Eropa dan USA. Apalagi sudah terlanjur ditanamkan kepada dunia , betapa terbelakangnya Tiongkok dengan komunismenya. Nyatanya apa yang ditanamkan melalui agen-agen media barat kepada dunia ini tidak terbukti , dan Tiongkok terus melesat sebagai kekuatan ekonomi ataupun kekuatan regional. (more…)
Budaya Tionghoa dan Judi
Berjudi itu adalah kombinasi dari sifat ketidakpastian dari waktu yang terus bergerak dengan perilaku manusia sebagai homo ludens, mahluk yang gemar bermain.
Berjudi sering di pandang rendah oleh masyarakat karena permainan dilakukan dalam waktu relative singkat dan ekspektasi yang liar antara semakin kaya atau kehilangan harta sama sekali. Kekalahan dalam waktu singkat inilah yang seolah-olah begitu meremehkan uang yang di raih dari memeras keringat setiap hari dan lantas menguap begitu saja. Jadi sifat instantnya sendiri yang membuat judi begitu di haramkan dan diremehkan.
Sementara manusia tanpa melempar atau dengan melempar dadu , tanpa bermain atau dengan bermain kartu tetap saja berhubungan dengan ketidakpastian. Jadi dalam hakikat kehidupan yang sebenarnya , manusia senantiasa berjudi dengan dirinya, hanya saja berbeda wujudnya dan derajatnya. (more…)
Trauma Sejarah Masa Lampau Tionghoa
Tragedy masa lampau adalah peristiwa-peristiwa negatif yang terjadi masa silam. Peristiwa adalah dimana orang tidak lagi menjadi tuan atas dirinya , dan terseret secara tak berdaya yang tidak mampu di lawan atau dikendalikan. Hasil dari peristiwa negatif adalah trauma , yang bisa dengan drastis mengubah sikap individu atau kelompok. Walau trauma adalah ekses dari suatu peristiwa , tetapi dia bersifat seperti kamera dengan night mode , membekukan peristiwa , dengan tangan yang gemetar , dan dengan hasil jepretan yang blur , yang akhirnya mengabadikan peristiwa yang sesungguhnya. Dalam keadaan trauma , yang di pikirkan adalah melebih-lebihkan sisi gelapnya. Dan mengembik seperti kambing . Saya , kenapa saya . Kita , kenapa kita mengalami semua ini? Masa lampau telah lama lewat , dan trauma terus menjerumuskan manusia terus berkubang kepada masa lampau. Terjadi mekanisme repetitif antara mengingat disaat ingin melupakan , vice versa. Hasil dari semua itu adalah prasangka …
Contoh mekanisme repetitif adalah pembahasan memamah biak kembali masa lampau , yang lebih menyerupai mengindoktrinasi massa. Alih – alih mencegah terjadinya perulangan peristiwa negatif seperti kerusuhan Mei , dan kerusuhan lainnya , tetapi hanya menumbuhkan prasangka. Jika di tarik mundur terus ke belakang , inilah penyebab terjadinya perang sepanjang masa. Karl May dalam “Et Pax In Terra” mengatakan ,” Pada mulanya prasangka. Tentu kita melihat hasil tersebut dalam konflik abadi Sinhala dan Tamil yang berusia ratusan tahun. Dan konflik Israel – Arab yang telah berusia ribuan tahun. Prasangka tumbuh besar dan sehat menjadi dendam , permusuhan abadi.
Martin Heideger dalam Discourse of Thinking mengatakan. Massa tidak pelupa , tetapi tidak berpikir . Dalam ketidak berpikiran , massa tidak hanya melupakan , tetapi juga mengingat. Bagian dari ketidak berpikiran adalah prasangka. Dalam pembahasan Nanking . Disini pembahasan yang sempat marak di milist ini lebih menonjolkan emosi daripada rasio. Begitu pula dalam pembahasan lain seperti Soeharto , Cina vs Tionghoa , Kamp konsentrasi . Orang berlomba mengklaim mengetahui sejarah , dan memanfaatkan sejarah untuk menuding pihak lain (Andaikan Soeharto tidak begini , maka saya tidak akan bernasib begitu), memanfaatkan sejarah untuk menghibur diri (kebudayaan tionghoa yang banyak dicuri oleh barat).Tetapi saya menangkap adanya impotensi dalam menangkap makna sejarah. Berandai – andai dalam dunia yang sempit , andaikan Soeharto tidak begini maka Aku tidak akan begitu. Padahal ada keterkaitan antara peristiwa yang satu dengan yang lain. Dalam kasus Nanking , ataupun agresi Jepang. Yang disorot adalah dampak kekejamannya saja. Kenapa perandaian tidak diperluas jauh lebih kompleks. Andaikan Jepang tidak menyerbu Tiongkok , Chiang Kai Sek tetap bercokol di Tiongkok , dan Tiongkok segera akan di pengaruhi Barat. Dalam kausalitas yang sangat kompleks, agresi Jepang menyebabkan Tiongkok semakin kuat. Kenapa tidak dipikir sampai kesana? Dalam kasus Hitler – Yahudi pun demikian , andai tidak terjadi holocaust , negara Israel tidak akan berdiri , dan Amerika Serikat masih tertinggal dari Eropa. Mengingat banyak sekali ilmuwan yahudi yang kabur ke Amerika. Sebenarnya saya bisa menulis jauh lebih kompleks lagi , tetapi tulisan takutnya akan sangat panjang. Intinya adalah , Ada Makna dibalik Penderitaan , betapapun kejamnya
Dalam kasus Tionghoa Indonesia. Andaipun etnis Tionghoa di bonsai , entah itu tangannya , budayanya , bahasanya , agamanya. Itu adalah proses yang pahit yang harus di lewati. Setiap budaya dan entitas budaya mengalami apa yang di namakan ujian. Sama seperti panca indera manusia . Mata yang buta akan menjadikan indera pendengaran dan peraba menjadi semakin peka dan kuat. Dan ketika matanya sembuh , dia menjadi manusia super. Begitu juga dengan tionghoa , segala handicap yang dialami di masa lampau , membuat tionghoa bergerak di sektor bisnis. Dan ketika kebebasan yang dirintis oleh Gus Dur , maka Tionghoa semakin kuat. Hal ini yang harus di renungkan.
Terkadang ada makna dibalik hukuman. Dostoyevsky sendiri pernah mengalami hukuman, justru mendukung adanya hukuman. Luchenetsky menulis dalam “Prison Herald”. “ Kegelapan membuat manusia lebih sensitive pada terang, aktivitas yang dipaksakan dalam penjara membuat dia haus akan hidup, gerak dan kerja. Kesunyian membuat dia merenungkan dalam-dalam “Aku”-nya, sehingga ia memandangnya berdasarkan kondisi sekitarnya, masa lalunya dan kekiniannya, dan memaksanya untuk berpikir tentang masa depan. Lev Tolstoy memang benar ketika dia bermimpi masuk penjara. Pada saat-saat tertentu, orang besar itu kehilangan kata-kata. Dia membutuhkan penjara seperti kemarau membutuhkan hujan.
Saya melihat tionghoa mengalami trauma.Dan solusi yang harus diberikan adalah detraumatisasi. Menghapus kontak dengan masa lampau yang terlalu berlebihan, emosional, menyalahkan pihak lain dan berulang2 atas nama sejarah . Apa benar demikian?. Karena itu hanya menumbuhkan prasangka baru. Atau malah Tionghoa menjadi paranoid. Dan rencana sang pelaku kerusuhan berhasil. Usaha men – trauma-kan tionghoa telah berhasil sukses, dan dibantu secara tidak langsung oleh tionghoa2 pandir yang sok berada terdepan diantara tionghoa. Dan permasalahan tidak akan selesai. Justru dengan cara demikian , peristiwa negative bisa terulang lagi. Berhentilah menggunakan cara kompulsif , apalagi menyudutkan “cina” dengan interupsi yang sangat “kasar”–, kasta. Gunakan cara yang lebih simpatik. Upaya hukum tentu harus dilakukan terhadap pelaku – pelaku kerusuhan. Adolf Eichmann, pencetus “solusi final” bagi yahudi pun menerima ganjarannya walaupun telah bersembunyi di ujung dunia. Jadi saya yakin pelaku kerusuhan juga akan mengalami ganjaran serupa , jika kekuatan hukum tidak berhasil menyentuhnya , mereka akan mengalami ganjaran setimpal lewat mekanisme kekuatan lain , hukum alam misalkan.
Mengetahui sejarah adalah penting , tapi tanpa kemampuan untuk memahami , kontemplasi , dan menggali makna dibalik sebuah “hukuman” adalah sia – sia saja.
Perang dan Agama
Perang salib dikatakan perang antar umat islam lawan umat nasrani ? Perang salib lebih menyerupai pertempuran dua hegemoni kawasan, yang kebetulan dalam hal ini rakyatnya beragama homogen. …., apalagi yang digunakan untuk mempersatukan kalau bukan kesamaan agama. Diluar carut marut perang, Paus , Baldwin the Lepreux , Salahuddin. Ada kisah lain yang luput untuk dicermati. Balian dari Ibelin bertahan di kota suci tiga agama , dengan senjata seadanya , dengan dukungan warga kota yang berasal (kalau mau dicatat AGAMA nya) , islam , yahudi , nasrani. Luar Biasa!!
Sayangnya sejarah perang salib sering dijadikan landasan teori bagi orang yang sok tahu dengan mengatakan bahwa umat agama tertentu gemar berperang………ck ck ck ck ……coba pahami konteks bahwa sejarah medieval memang haus peperangan, itu terjadi dimanapun termasuk di wilayah asia timur , eropa , timur tengah . Lantas apa mau ditarik ke wilayah agama? (more…)








